Mendengar kata yang "kedua" orang seringkali menatap sinis. Semua orang ingin menjadi nomor satu. Bahkan sejak dulu pun kecap tidak ada yang bukan nomor satu. Seolah kedua itu adalah posisi yang tersisihkan.
Agaknya hanya Astrid yang berteriak lantang ingin dijadikan yang kedua tanpa kita bisa tahu apa tendensinya melawan arus isme masyarakat. Benar-benar dia ingin membuka wawasan semua orang atau hanya mencari sensasi agar bisa dijadikan alat pembenaran.
Aku sendiri tak pernah memikirkan tentang pertama atau yang kedua. Yang pasti aku merasa perjalanan keduaku ini justru terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Entahlah mengapa bisa begitu..? Padahal aku yakin tidak ada perubahan atau perbedaan yang berarti dari kebersamaan kedua ini dengan yang pertama. Atau mungkin benar apa yang pernah aku tuliskan di sebuah blog tentang arti kehadiran. Dimana segalanya kadang terasa indah setelah keindahan itu pergi...
Sebelum ada kepergian itu aku memang tak pernah tahu arti sesungguhnya dari kebersamaan yang pernah kujalani. Apalagi bila semua itu hanyalah ...a dream you do not want to wake up from.
Terasa sekali ada sesuatu yang menggantung hanya karena aku menganggap perjalanan itu tak pernah ada arah tujuannya. Setelah semuanya berlalu, terasa sekali bahwa ada banyak sisi yang tak pernah tersentuh dan terasakan padahal itu lebih berarti daripada sebuah tujuan akhir perjalanan.
Seolah aku melupakan bahwa rel kereta selalu sejajar mengantarkan segala beban harapan ke tujuan namun tak pernah berimpit menjadi satu. Tanpa aku harus tahu akhirnya akan bagaimana, ternyata banyak sekali pemandangan indah di sepanjang jalan yang bisa aku nikmati. Agaknya itu yang lebih penting, karena aku hanya bisa berusaha semata dan selanjutnya aku hanya bisa memasrahkan diri kepada takdir Illahi.
Apapun yang terjadi, aku tetap merasa perjalanan kedua ini terasa begitu indah. Aku tak peduli lagi orang akan mencibir atau berkata sinis. Banyak rasa yang dapat aku nikmati dan rasakan kini. Dan hidupku tidak terasa hambar lagi.
...what make each day special.
Yang Kedua
Fool In Love
Pagi tadi menjelang subuh HPku bernyanyi. Ayu dari Praha yang nelpon ternyata.
"Hei, ngapain subuh-subuh nelpon?"
"Sori deh, mas. Baru jam 12 disini. Dah bobo yah..?"
Buset, udah tau disini subuh masih nanya sudah bobo apa belum?
Percakapan pun berlanjut.
"Januari aku pulang ke Indonesia, mas. Aku mau nikah."
"Jadi nikah sama si Fau? Katanya bermasalah?"
"Engga, mas. Udah bubaran Oktober kemarin"
"Heeeh," aku malah bengong. "Kamu bubaran Oktober, sekarang udah bilang mau nikah. Cepet amat cari gantinya..?"
Si Ayu yang memang benar-benar ayu itu malah ngakak. "Kenapa sih, apa susahnya kalau memang kita sudah cocok. Jangan terbelenggu dalam fool in love, mas.."
Cukup panjang sih percakapan setelah itu.
Tapi hanya satu yang terus nyantol di otakku sampai saat ini. Fool in Love...
Fuiiih... belum berubah juga ucapan itu dari dulu.
Berjam-jam aku memikirkan itu di sela-sela kesibukan pekerjaan siang tadi. Aku juga ingat tulisanku sendiri tentang keinginanku untuk change!!! Haruskah aku juga ikut berubah dalam hal itu?
Selama ini aku memang terbenam dalam sebuah pemahaman yang aku sebut dedication to love. Walaupun lebih banyak orang yang berkata seperti temanku Ayu itu. Benarkah selama ini aku memang benar-benar tenggelam dalam sebuah kedunguan?
Setiap orang menuliskan tentang cinta. Tetapi pencarian itu tidak menghasilkan cinta. Pencarian itu kadang mampu membuat laki-laki melakukan hal-hal yang tidak biasa. Menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga dan pikirannya hanya untuk menarik perhatian seorang perempuan. Parahnya banyak laki-laki yang melakukan hal-hal yang diyakini akan berhasil hanya karena semua itu dilakukan juga oleh banyak laki-laki umumnya. Buatku, tidak ada yang lebih menyedihkan selain seorang laki-laki yang meminta saran orang lain hanya untuk menjadi dirinya sendiri.
Aku belajar banyak tentang cinta dengan mencoba untuk menenangkannya daripada untuk memenangkannya. Sampai akhirnya aku dapat menemukan hal-hal utama tentang cinta dan diriku sendiri. Aku pernah merasakan betapa indahnya saat jatuh cinta. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa pengejaran itu terasa lebih nikmat melebihi saat telah mendapatkannya. Mungkin ini yang membuat orang lebih suka mencari cinta daripada mempertahankan cinta.
Banyak orang yang melarikan diri ketika tertusuk duri mawar cinta, melupakan bagaimana mereka dulu berusaha sekuatnya untuk menjamah keindahannya. Dan setiap orang yang membiarkan tangannya berlumuran darah mempertahankan tangkai berduri itu akan dipandang sinis dengan sudut mata.
Terlalu banyak sisi-sisi cinta yang harus kita mengerti. Tapi terlalu sedikit yang mau menahan sakitnya. Sampai terlontar dari bibir mereka julukan "sang pecundang" daripada kiasan "pengabdian cinta"
Semoga aku bisa menemukan diriku dalam cinta.
Love is ...the human equation ...being tied by heartstrings