Toilet Eksekutif

"Hoi, liatin tarif tiket ke Jakarta donk,"
"Pake A*** Air aja tuh, murah, lagi promo."
"Hoi sembarangan, tiket kereta, ndol..."
"Lah, tarif pesawat sama kereta cuma beda 30 ribu."
"Ga mau ah, rugi. Bayarnya mahal, baru naik sebentar sudah nyampe.." 

 
Saya sempat menggerutu dengan usulan dari anggota Pasukan Berani Malu. Enak saja naik pesawat, direktur saja terima naik Kereta Kahuripan pas pulang ke Sidareja kemaren, karena emang ga ada Kereta Eksekutif yang mau berhenti disitu. Masa anak buah pake fasilitas lebih siip. Padahal aslinya sih males, abis itu pasti masuk angin, kena udara AC plus tidak bisa SMSan.

Jadilah meluncur ke Stasiun Lempuyangan diantar A
di. Untung rada gasik, kereta yang biasanya molor sekarang malah nongol setengah jam lebih awal. Tiketnya Jokja - Jakarta cuman 28 ribu perak. Fasilitas ga jauh beda dengan yang eksekutif, cuma karena penuh aja akhirnya selonjor deket WC beralas koran. Aroma room freshner alaminya lumayan sedap dipandang mata, walau lama-lama terasa biasa dan ga perlu tutup idung lagi.

Segala sesuatunya emang sudah dipersiapkan dari sore. Sengaja bawa buku Sillyman from Mars, Pitywoman from Venus yang tebelnya 350 halaman lebih. Cukuplah sebagai teman sampai Jakarta. Walaupun akhirnya ga sempat dibaca karena asyik ditemanin Ayang via YM sampai jam 1. Ayang off mau nerusin baca, malah diajakin ngobrol lagi di Yahoo oleh adik_rimba, temen dari Malaysia sampai subuh. Mau baca lagi, kayaknya tanggung sebentar lagi nyampe.

Jam 8 kurang turun di Stasiun Pasar Senen. Buat ngilangin ngantuk sengaja tuh jalan-jalan cari keringet sampai ke halte busway di bawah jalan layang. Tapi dasar mata ngantuk, naik metromini salah tebak angkanya. Jadinya malah cuman muter balik lagi ke terminal Pasar Senen. He he he...

Eh, tapi ada yang nyebelin tuh pas di kereta. Tau penuh begitu. Ada ibu-ibu yang seenaknya tidur selonjor di kursi buat sendirian. Dibangunin tuh malah ngambek. Pas nyampe Kebumen ada yang turun dan saya bisa duduk tuh. Sampai Kroya ada penumpang cewek yang naik. Ibu-ibu yang bobo dibangunin masih cuek aja. Jadinya saya ngalah deh duduk di koran lagi deket WC.

Buat saya sih ga masalah, cuman kok kenapa hari gini masih ada masyarakat kecil yang begitu kejamnya tidak mau peduli dengan orang lain. Ternyata ada saja ibu-ibu yang menjadi pelaku KDRT (Keenakan Duduk Raurus Tetangga...)


Dasar...

Renang di Seturan

Semalaman tidak tidur merancang web dengan mas Adi dan Efan, sepanjang siang keluyuran mencari donasi membuat kepala terasa kliyeng-kliyeng menatap masa depan. Padahal malamnya harus siap tempur presentasi dan menyusun tindak lanjut kegiatan pecel curing. Apalagi bos direktur lembaga dari Cilacap berkenan hadir. Waduh, kepala makin tidak nggenah rasanya.

Sampai akhirnya terbersit ide buat represing di
Sport Center Senturan. Berangkat deh tiga motor berombongan kesana. Walah suasananya asyik juga sih buat cuci mata. Cuman sayangnya hari sabtu, jadi tiket masuk yang biasanya 7000 perak naik jadi 9000. Tapi gapapa lah. Sing penting hepi dan otak bersih dari eres-eres, walau disitu bergentayangan yang bikin isi kepala jadi ngeres.

Bolak-balik balapan renang dengan Bang Yos dan Bung Adi memamerkan berbagai gaya, dari renang gaya batu sampai gaya perkak terbang. Cuman sayangnya karena semalam ga pulang ke basecamp di papringan, jadi ga bawa baju ganti. Nyebur ke kolam pun pinjam kolor Bung Adi. Bingung kan soal CD. Ga dipake takut kaya yang tak pinjemin kolor. Loncat dengan dahsyat langsung menyelam sampai celananya ketinggalan di permukaan kolam. Waduh untung ga bikin heboh tuh...

Walhasil pulang ga pake CD neh. Tapi gapapa lah. Yang penting badan seger dan fresh lagi. Ga sia-sia keluarin dana 9
000 perak, tapi bisa sekalian cuci mata, minum, mandi, pipis dan bersihin daki di satu tempat. Lumayan, ngirit....

Inilah kilas liputannya...

 
Persiapan renang dengan gaya petinju



 
Bung Adi dan Bang Yos in actions



 
Inilah gaya perkak terbangnya Bang Yos...

Program Melek Komputer

Baca berita lama tentang penggerebekan tempat perakitan komputer rekondisi, saya kok jadi miris. Apalagi setelah baca berita lama juga tentang pernyataan Sekretaris Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) DR Ir Marzan A Iskandar menyatakan hanya 0,5 persen masyarakat dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang "melek" komputer.

"Itu data tahun 2000, sehingga kurang dari satu persen dari masyarakat kita yang melek komputer, karena itu BPPT saat ini mencanangkan program `melek` komputer di seluruh Indonesia," katanya di Graha Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1945 (ITS) Surabaya, Selasa. Menurut Marzan Iskandar, program "melek" komputer bertujuan meningkatkan jumlah orang yang memahami komputer dalam bentuk pelatihan komputer, pengenalan word/excel, penggunaan internet, kunjungan ke BPPT, dan semiloka lainnya.

Secara terpisah, Direktur Microsoft Indonesia, Irwan Tirtariyadi mengatakan Microsoft bekerja sama dengan ITS untuk mengembangkan jaringan PULSE (Public University Link System on East Java) pada delapan Perguruan Tinggi (PT) Negeri se-Jatim mulai Jember, Malang, Surabaya, dan Madura.

Weeeh...
Sebenarnya sepenuh hati engga sih pemerintah mencanangkan program itu. Pemerintah menginginkan masyarakat kita melek komputer, tapi dukungan untuk pengadaan komputer murah kurang diperhatikan. Dari sisi software pun subsidi untuk pengadaan software komersial resmi sangat terbatas. Sisi lain sosialisasi software open source kurang diperhatikan. Akhirnya BSA menjatuhkan klain bahwa 87% pengguna komputer Indonesia menggunakan software bajakan. Ini parah banget dan dimanfaatkan oleh para penegak hukum kita dan dijadikan proyek sapi perahan. Berapa banyak sih pengusaha jasa komputer yang masuk golongan UKM kita yang kolaps saat operasi software ini digalakkan.

Kasus lain saya mendapat masukan dari teman-teman LSM tentang penggunaan dana ADD sebesar 42 juta dari total 100 juta untuk proyek komputerisasi dan internetisasi desa. Padahal menurut masukan teman-teman LSM itu dana yang dibutuhkan untuk proyek itu per desa hanya sekitar 17 juta saja. Jadi saya pikir ini benar-benar dalam rangka program melek komputer atau program penggembungan saku birokrat..?

Kembali ke soal komputer rekondisi...
Solusi untuk memiliki komputer dengan harga terjangkau salah satunya adalah dengan komputer rekondisi itu. Mengapa usaha perakitan itu tidak dibantu dan diarahkan oleh pemerintah apabila dianggap merugikan pendapatan negara dari sisi pajak.

Dan kenyataannya sebagian masyarakat kita juga lebih suka membeli komputer rekondisi daripada komputer baru. Apalagi untuk sekolah-sekolah di pinggiran dimana kemampuan wali murid termasuk rendah, sedangkan tuntutan kurikulum sudah mewajibkan adanya pelajaran komputer sejak tingkat SMP.

Harus bagaimana sih menghadapi sepak terjang pemerintah untuk hal semacam ini...?

Usia Senja di Sekaten Jogja

Sehabis ketemuan darat dengan pasukan Rifka saya dengan mas fadli meluncur ke Sekatenan  di alun-alun utara Jokja. Cukup rame sih pengunjungnya, walaupun awan kelam menggantung di atap langit.

Ada sosok menarik yang membuat saya terkagum disitu. Duduk di rerumputan mengharap belas kasihan pengunjung. Saya pun ikut duduk dan mengajaknya bercerita tentang kehidupannya. Beliau yang lumpuh mengaku punya anak lima orang dan semuanya sudah mentas walaupun tidak begitu mapan. Tapi kelima anaknya seolah mengucilkan keberadaan beliau sebagai orang yang pernah membuat hidup mereka lebih hidup.

Tapi saya tak habis-habisnya merasa kagum dengan prinsip hidupnya. Beliau berusaha untuk menepis semua anggapan negatif kepada kelima anaknya. Walaupun beliau memilih hidup sebagai peminta-minta, namun itu bukan berawal dari keinginan untuk menjadi hina seperti anggapan sebagian orang.

"Anak-anakku wis duwe dalan urip dhewe-dhewe, aku moh dadi renggan. Kuwi wis dadi kewajibanku kok, aku ora ngutangake uripku marang anak. Timbang setres aku mending ngene, le..." begitu jawaban beliau. Kalo diterjemahkan mungkin artinya begini...

"Anak-anak saya sudah punya jalan hidup sendiri-sendiri, aku tidak mau jadi beban. Semua itu sudah jadi kewajibanku dan bukan merupakan hutang hidup kepada anak. Daripada stres aku mendingan begini, nak..."

Sungguh nilai yang sangat luhur di mata say
a. dan menurut yang pernah saya baca, stres merupakan perasaan tertekan saat menghadapi permasalahan. Stres bukan penyakit, tapi bisa menjadi awal timbulnya penyakit mental atau fisik jika terlalu lama. Penyebab stres di kalangan lansia, beda dengan remaja dan anak-anak. Yang paling sering menyebabkan stres pada lansia post power syndrom. Kehilangan jabatan, perasaan kecewa karena tidak lagi dihormati seperti dulu,  merasa tidak diperhatikan lagi anak atau menantunya.

Menghadapi situasi itu, orangtua itu harus cepat menyadari bahwa anaknya sudah punya kehidupan sendiri. Kemudian berusaha membuat kegiatan dan mencari kebanggaan di tempat lain.

Dalam tingkatan terukur, stres diperlukan
untuk adaptasi kondisi untuk bisa melakoni kehidupan berikutnya. Stres wajar sebagai tanda kita punya jiwa dan emosi. Yang penting bagaimana kita mengendalikan diri dalam mengelola stres sehingga bisa eksis dalam pergaulan. Kiat mengatasi stres pada saat lansia: sebelum tua belajar memahami makna hidup ini sehingga bisa menyiapkan diri dan tidak kaget atau stres jika saat tua tiba.

Yang mungkin perlu kita sadari anak bukan tumpuan hari tua. Hidup ini milik Yang Kuasa. Sebagai orangtua sudah selayaknya menyiapkan anak-anak ke arah kehidupan yang lebih baik. Anggapan yang menyebutkan anak-anak tumpuan kita di hari tua, harus dihilangkan sebab mereka juga punya kehidupan sendiri. Kalau kita menyiapkan mereka dengan baik pasti baik juga kita peroleh.

Ada pula yang memikirkan bahwa masa tua bisa dilalui di Panti Jompo. Ada plus minus lansia dititipkan di panti jompo. Bagi si anak, tidak repot, karena sudah ada yang mengurus. Tapi menurut saya lebih banyak sisi negatif dari segi hubungan emosi dengan anak. Ora
ngtua akan merasa diri dikucilkan, merasa dibuang. Perasaan dibuang ini akan berdampak kurang baik bagi kesehatan fisik.

Bergaul dengan orang seusianya mungkin akan membuat lansia akan merasa lebih baik.  Pada usia tua akan banyak penyakit saling menghampiri. Soal panti jompo, di luar negeri sangat dicari para lansia. Coba baca deh tentang panti jompo di Copenhagen yang mend
apat fasilitas pelayanan seksual. Atau panti jompo rasa hotel seperti yang ada di Cinere. Di panti jompo mereka bisa bergaul dengan orang seusianya. Tapi menitipkan orangtua seakan-akan anak tak hirau lagi terhadap orangtuanya..

Hmmmm.... kenapa sih tidak semua ora
ng tua bisa belajar seperti itu. Dan yang paling penting, mengapa banyak anak yang bersikap seperti itu kepada orang tuanya...?

Jend Sudirman Anywhere

Saya berjalan dari kota ke kota dan melihat ada satu hal yang menarik di mata saya. Jendral Soedirman, Pahlawan Nasional sekaligus tokoh besar Banyumas di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dulu. Boleh dikatakan, nama beliau digunakan di seluruh jalan protokol atau jalan utama kota-kota yang saya lalui.

Sebagai warga Ngapak, ada satu kebanggan tersendiri dalam diri saya tentang hal yang satu itu. Sekaligus ada satu keprihatinan yang mendalam, mengingat nilai-nilai luhur perjuangan beliau hanya diabadikan sebagai sebuah nama jalan. Pewarisan nilai itu tak pernah sampai ke generasi muda kita.

Saya ingat pelajaran sejarah dulu, bagaimana beliau begitu besar pengorbanannya terhadap kemerdekaan bangsa ini sampai melupakan kondisi fisiknya yang sakit berat. Dengan mengandalkan sebelah paru-parunya, beliau bergerilya dari satu tempat ke tempat lain melalui medan juang yang teramat sulit. Sebuah nilai yang sangat luhur dan jauh dari kenyataan yang ada saat ini.

Bahkan kalau saya ingat dalam sebuah ilustrasi, ketika Agresi Militer Belanda II dilancarkan, beliau melapor kepada Presiden Sukarno. Presiden menganjurkan beliau untuk bertahan dalam kota dan melanjutkan perawatan kesehatannya. Namun dengan tegas beliau menjawab, "Saya seorang prajurit. Medan Perang adalah tempat saya. Saya akan melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini."

Beliau benar-benar meninggalkan kota dan mengkonsolidasikan pasukan perang RI yang tercerai berai sehingga bisa menunjukkan keberadaan TNI dan puncaknya pada Serangan Umum 1 Maret yang mampu membuka mata dunia tentang eksistensi Indonesia dan TNInya.

Sungguh nilai yang sangat luhur. Demi negara dan bangsa beliau melupakan kondisi fisiknya yang sakit dan tegas menolak perintah dari penguasa negara yang dianggapnya mementingkan diri diatas kepentingan orang banyak.

Andai saja semua orang di negara ini mampu seperti itu....
Tapi apakah mungkin, bila generasi muda kita lebih mengenal Superman dari pada Sudirman..? Apakah kita perlu membuat film tentang tokoh superhero dengan nama Sudirman agar image kepahlawanan itu mampu menepis popularitas Superman...?

Eh... tapi kayaknya berlebihan deh.. Jangan-jangan setelah film Sudirman malah ada film Sudirboy. Lebih parah lagi kalo Sudirboke numpang tenar...

Hmmm... ngelamun doank, neh...

http://id.wikipedia.org/wiki/Soedirman
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sudirman/index.shtml

Chat di Kolong Tol

Di saat keluyuran kemaren banyak temen yang ga percaya kalo saya chatting sambil nongkrong dengan anak-anak jalanan di kolong jalan tol. Ada juga yang percaya tapi dikiranya saya bawa letop atau HP mahal. Padahal sudah bolak-balik mengatakan kalo saya cuman pakai Sony Ericsson K750i, trus diinstal aplikasi MIG33Beta. Mig33 beta adalah software gratis untuk chat lewat handphone, yang bisa digunakan untuk MIG, Yahoo Mesenger, MSN, AIM, Google Talk, dll. Migg33 Beta juga bisa dimanfaatkan untuk telpon murah, kirim sms, bahkan anda dapat mengekses phone book anda tanpa keluar dari mig33. Menginstalnya tidak sulit kok. Asal HP anda support aplikasi Java Insya Alloh bisa diinstal aplikasi ini. Caranya ga sulit kok. Yang penting GPRS sudah aktif dan HP sduah disetting termasuk penggunaan GPRS untuk Java. Buka browser HP lalu masuk ke wap.mig33.com. Klik Register lalu masukan nama, pasword dan nomor HP yang akan digunakan. Setelah itu klik download aplikasi. Biasanya begitu selesai download aplikasi langsung terinstal secara otomatis. Selesai menginstal server MIG33 akan mengirimkan kode verifikasi melalui SMS. Catat kode tersebut. Dan buka aplikasi MIG33 tentunya setelah menutup browser. Masukan kode verifikasi tadi. Kalau belum menerima kode, bisa klik resend code atau remind me later bila kode belum juga diterima. Login dengan user name dan pasword yang tadi dibuat. Setelah login berhasil, chat di room maupun PM dengan anggota MIG sudah bisa dilakukan. Kalau pengen masuk ke Yahoo Messenger misalnya, tinggal klik Menu lalu cari Other IM. Pilih Yaho lalu Sign In. Untuk pemakaian pertama kali id dan pasword Yahoo akan ditanyakan. Isi lalu klik Save. Untuk IM yang lain juga sama.

Lebih praktis daripada kita gunakan Yahoo Go misalnya. Karena di MIG33 bila kita chat dengan beberapa orang, akan muncul dalam bentuk tab. Bila kita menerima balasan maka tab itu akan berkedip. Bila banyak tab sehingga tidak kelihatan di layar HP yang sempit, maka yang berkedip adalah tanda segitiga yang fungsinya semacam panah penunjuk kali ya... Jadi kita tidak perlu kembali ke Home Application hanya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari teman lain.

Trus kalau kita login atau sign in pada lebih dari satu Messenger, semua bisa berfungsi secara bersamaan. Dan teman-teman yang aktif akan terlihat berjejer ke bawah dikelompokkan menurut ID Messengernya.

Murah... karena perhitungannya berdasarkan besaran data yang kita kirim dan terima tidak tergantung jumlah pesan seperti halnya SMS. Saya coba Chat seharian dengan kartu XL Bebas cuma habis sekitar 5 ribu perak. Coba isi pulsa 100 ribu dan habiskan cuma buat mainan MIG33, dijamin jempolnya benjol deh... Dan sekilas info, sementara ini yang taris GPRSnya murah adalah XL Bebas, Mentari dan IM3. Cuma Rp 1,- per kilobyte. Kalo yang lain tau deh... Coba aja lah sendiri. Eh, satu kelemahan dari MIG33 atau mungkin saya yang belum bisa, kita cuma bisa chat dengan yang statusnya online atau available. Yang invisible kita bisa menerima tapi tidak bisa mengirim pesan.

Aplikasi lain yang bisa digunakan :
SHMessenger ( shmessenger.ro )
EBuddy ( get.ebuddy.com )
Nimbuzz ( nimbuzz.com )

Yang punya info lain tentang MIG33 silakan berbagi disini...

Back To Adventure

Belakang STAIN Kartasura, minggu sore, hujan deres, medhang kopi, udud samsu, tongkrong di teras sambil ndlepus... puuusss...

Terbuka semua kenangan lama bersama seorang teman dan pasukan sampah sekitar 15 tahun yang lalu, saat hidup seperti tidak memiliki beban. Menghayati tepat falsafa
h lama "Mangan Ora Mangan Asal Kumpul.."

Kenyang perih dirasa bersama, baju basah kering di
badan, tidur beralas tenda berselimutkan kabut. Pokoke weees lah, pasukan nekat memang penuh kenangan. Nasi sebungkus buat kroyokan, sebatang rokok tapel koeda dikenyot se erte. Wah, benar-benar masa penuh kebersamaan. Apalagi pas Susilo nelpon ngajak tes fisik ke gunung lagi. Nyambangi Mbah Maridjan minta kekuatan biar masup tipi. Walah... keinginan kembali ke alam bebas makin meluap.

Kadang saya berpikir, kenapa sih saya begitu suka berpetualang..? Kenapa sih avonturir di alam bebas selalu jadi keinginan..? Apakah karena sejak SD saya sudah begitu memfavoritkan novel-novelnya Dr. Karl May..?

Bisa jadi sih.

Yang paling saya suka dari penulis Jerman yang tidak pernah mau disebut novelis adalah cintanya pada perdamaian dan anti rasis yang semuanya dibalut dal
am kisah petualangan setebal rata-rata 600 halaman tiap bukunya. Masa kecil saya begitu terinspirasi oleh tokoh Old Shatterhand dan Winnetou yang menjelajah prairie di benua Amerika. Kisah tentang Pelosok Balkan juga begitu lekat dalam ingatan saya.

Begitu masuk STM, penghayatan akan kehidupan di alam bebas makin meningkat tidak hanya sekedar menjelajah hutan-hutan di sekitar rumah saya dulu sambil cari kayu bakar. Saya mulai berkenalan dengan puncak-puncak pulau Jawa, menelusuri pesisir selatan dan menelusup goa-goa gelap hanya untuk mencari sesuatu yang saya sendiri tidak mengetahui maksudnya. Yang saya rasakan hanya satu, kedamaian. Yaaah... di alam bebas saya begitu damai.

Di saat masalah dan keruwetan hidup muncul, biasanya saya lari ke puncak gunung. Duduk sendiri di dalam sunyi, merenungkan bahwa betapa kecilnya saya di banding segala yang Tuhan ciptakan untuk manusia. Seringkali saya duduk di tebing yang menjulang atau di bibir jurang yang dalam hanya untuk mengingatkan diri sendiri, "bila Tuhan menghendaki kematian saya, akan sangat mudah bagi-Nya meruntuhkan gunung batu di atas saya. Sungguh saya tak punya apa-apa di hadapan ciptaan-Mu. Apalagi bila harus menghadap-Mu..."

Berjalan kaki keliling pulau Jawa atau menjelajah rimba hanya ditemani tas punggung dan sepatu PDL tentara sudah menjadi menu sehari-hari. Sampai akhirnya saya harus berhenti dari kehidupan itu ketika kodrat sebagai manusia yang harus melanjutkan keturunan musti dijalani.

Dan di saat kegagalan demi kegagalan
menjalani kodrat manusia normal itu datang silih berganti, saya begitu merindukan hadir kembali ke masa-masa itu. Cuma, kalau dulu saya benar-benar berjalan mengandalkan kedua kaki ditemani kantong minum dan sebilah sangkur di pinggang, sekarang saya berjalan hanya berada di kota saja menelusuri kehidupan jelata bertemankan sebuah HP GPRS dan koneksi internet. Dulu saat tersesat dan tak tahu arah, saya hanya mengandalkan naluri dan tanda-tanda yang alam berikan, paling banter dibantu meditasi, Kini Yahoo dan Google Earth yang banyak membantu. Perjalanan antar kota lebih sering dengan menumpang kendaraan umum. Entah karena saya sudah berubah atau mungkin sebagai pemanasan fisik mengingat saya sudah 10 tahun lebih tidak pernah berjalan jauh.

Pertemuan demi pertemuan dengan teman-teman bertualang dulu memang memiliki banyak makna. Yang saya lihat mereka memang sudah berubah menjadi manusia normal dengan keindahan keluarganya. Tapi tak ada satupun yang menyangkal bahwa mereka juga begitu merindukan masa lalu saat menjadi pasukan sampah. Saya pun begitu merindukan kehidupan seperti mereka, memiliki keluarga yang bahagia sebagaimana teman saya Kanthong.

Tapi agaknya keinginan itu harus saya tahan dulu sekuat tenaga. Biarlah saya kembali ke alam dulu. Mungkin akan banyak yang saya dapatkan disana. Semoga berarti bagi kehidupan saya selanjutnya...



Alam lalu... saya kembali ke pelukanmu...

Japrem..!!!

Malam jumat kemaren saya sama temen saya Tata makan di Depan Wisma Antara. Saat itu ada seorang anak kecil menghampiri.

"Om... minta uang om. Buat makan om"
"Kamu belum makan.?" tanya saya. Anak itu cuma mengangguk.
Saya pegang pundaknya, "Dah, kamu duduk sini tar saya bayarin deh. Mau makan apa..?"
"Engga om, uangnya saja.."
"Lho, katanya belum makan. Dah pesen sana. Nanti kamu sakit."
"Engga om, ibu saya juga belum makan."

Duh, mulai rese ni anak. "Sekarang kamu makan dulu, tar bungkusin buat ibu kamu.."
Eh... anak itu malah berdiri. "Engga, om. Uangnya saja. Cepetan om..."

Waduh, ini anak. Udah minta ati, dikasih rempela sekalian jeroannya malah minta mentahnya. Pake setengah maksa lagi. Karena kelihatan seperti ketakutan akhirnya saya kasih. Abis itu lari ke sebrang jalan. Eh, sialan. Uang yang katanya buat ibunya malah dikasihin ke pemuda yang kayaknya preman deh.

Saya jadi inget cerita anak-anak di Senen waktu saya nongkrong setengah hari disana. Mereka cerita kalau uang hasil minta-minta, ngamen atau nyopet itu mereka cuma kebagian sedikit. Kebanyakan disetorkan ke preman penguasa wilayah itu.

Mikir engga sih... Anak di bawah umur harus cari uang dibawah paksaan sedangkan yang berusia produktif cuma ongkang kaki menunggu setoran..?

Yang memprihatinkan tuh waktu saya tanya, "Eh, elo nyopet, uangnya malah dikasihin orang. Kalo elo digebukin orang apa ketangkep polisi, emang bukan elo yang ngerasain..?"

"Kalo ketangkep, tar abang yang ngeluarin. Makanya gua harus setor, soalnya buat ngeluarin dari kantor polisi kan harus bayar gede..."

Sepintas bener juga sih jawaban polos di wajah lugu itu. Tapi coba deh pikirkan. Harus setor cuma untuk ngeluarin kalo ketangkep polisi.
Setornya berapa, ngasih polisinya berapa..? Imbang engga..?
Kerja keras dengan resiko tinggi, sama duduk manis nunggu setoran, imbang engga..?

Lagian kalo tidak nyopet kenapa harus ditangkep polisi. Padahal pelaku di bawah umur, apalagi di bawah paksaan belom bisa dimasukin perkara kriminal. Trus, kenapa polisinya minta duit..? Jadi preman aslinya yang mana..?

--------------------

Belum ilang kedua cerita itu dalam ingatan, saya malah harus berurusan langsung sama preman Pulogadung. Ceritanya neh dalam kondisi basah kuyup, saya mencari bus ke Solo. Calo-calo kurangajar pada berebut narik-narik tas.

Trus di deket pos polisi ada seorang bapak agak tua dan gemuk pakai payung bertanya. Walaupun cuma pakai kaos, tapi karena celananya coklat saya kira beliau tuh petugas. Lagipula gaya omongannya juga kaya kebiasaan polisi beneran.

"Kalo ke Solo, busnya sebelah sana. Tapi jangan kesana sendiri, dipalak calo tar. Tuh sama anak buah saya saja," katanya sambil memanggil seseorang.

Jadinya saya mbuntut deh sama orang itu. Trus diajak ke pinggir tempat agen. Ada orang berbadan gede di situ. Dia nanya mau kemana sama minta ongkos. Saya yang sering dengar tentang preman Pulogadung, bersikap rada ati-ati.

"Mana bisnya, bang..? Naik juga belum kok dimintain ongkos."
"Tuh.."katanya sambil menunjuk bus di depannya. "Mana duitnya.."

Saya keluarin uang dari celana. Kebetulan ada 3 lembar limapuluhan ribu. Niatnya saya kasihin selembar saja. Eh.. malah disamber semua.
"Eh, apa-apaan neh bang..?" protes neh ceritanya.
"Dah, pake eksekutif saja" jawab dia ketus sambil bergegas keluar terminal. Saya nengok ke orang yang katanya anak buah yang didepan pos polisi.
"Udah ayo ikutin aja, jangan disini, lama. Mending yang diluar terminal biar langsung berangkat," katanya sambil berjalan mengikuti yang tadi.

Mau ga mau mbuntut deh. Ternyata jalannya jauh juga tuh. Mulai kerasa ga enak perasaan neh. Ada mungkin 800 meter keluar terminal, trus saya disuruh naik bus Mandala yang saya tahu itu ekonomi AC. Saya turun lagi tapi dihalangin oleh personal bus. "Dah, mas. Duduk sana.."

"Bentar, bang. Katanya eksekutif bukan yang kaya gini..?"

Yang ditanya malah ngebentak pake dialek Jawa Timuran, "Eksekutif opo, mbayar 40ewu kok pengin bis apik.."

Saya lari keluar, dua orang yang tadi sudah menghilang entah kemana. Karena udah telanjur lelah seharian jalan kaki, badan basah kuyup kehujanan sejak di Senen, apalagi malemnya abis ga tidur, saya akhirnya duduk pasrah di bus itu sambil menggerutu "Nyikat duit 150 ribu kok cuma dibayarin 40 ribu ke kondekturnya..." Tapi ya sudahlah. Itung-itung zakat fitnah...

Dan ternyata.... disitupun banyak masalah. Ongkos resmi yang cuma 50ribu, ada yang dimintai 70 ada yang 85... Trus busnya engga juga berangkat. Ada yang protes katanya sudah duduk di bus itu sejak jam 2 siang tapi cuma nyampai cakung balik lagi ke pulogadung sampai berkali-kali. Orang itu minta ongkosnya dikembalikan. Walau alot akhirnya dikembalikan tapi cuma separo, 40 ribu doang... Denda kata kru bus.

Itu belum selesai. Sekitar jam 10 malem bus berangkat pelan seperti keong. Sampai Cakung ada penumpang operan dari bus Mahkota 13 orang. Karena Bus Mahkota itu ekonomi, dan Mandala itu AC, setiap penumpang dimintai tambahan 15 ribu oleh kondektur Mahkota.

Masih dilanjut neh...
Penumpang Mahkota tadi kebanyakan kan tujuannya ke sebelah timur Semarang, padahal Mandala dari Semarang belok ke selatan menuju Solo. Ternyata begitu sampai Semarang, kru Mandala tidak mau tanggungjawab memindahkan penumpang itu ke bus jurusan Semarang ke timur. Alesannya itu bukan urusan dia tapi kondektur Makhota. Mau ngangkut sampaiSemarang juga sudah untung kok... Lihat saja di karcis yang baru, tujuannya mana..?
Dan emang bener sih, di karcis yang mereka terima tertulis SMG...

Masya Alloh.... Kenapa harus begini Indonesiaku..? Sesama orang kecil saja saling menginjak. Apalagi yang gedean...?

Kapan aku bisa dapat Japrem (Jatah Preman...)

Kapan sih aku dipilih jadi presiden...?

Sabtu Hujan di Petang Senen

Minggu siang seusai ikut pertemuan di Warung Sroto Eling Eling, saya ke tempat Kang Ali mengambil perlengkapan perang. Rencana ke Solo yang kemarin tertunda hari ini harus berjalan. Maka meluncurlah saya ke Terminal Pasar Senen. Sampai di sana saya tidak langsung menuju pulau Gadung, tapi jalan dulu mencari anak jalanan yang kemarin sempat menemani saya menghabiskan waktu. Muter-muter ada setengah jam ga ketemu juga. Akhirnya saya berjalan menuju Stasiun Kereta. Belum juga sampai, hujan turun dengan lebatnya. Semua orang berlarian kesana-kemari mencari tempat berteduh. Aktivitas yang hiruk-pikuk orang berlalulalang berubah menjadi sepi. Tinggal beberapa anak-anak pengojek payung berlarian mencari pelanggan. Sepeda motor yang semula berjalan santai langsung tancap gas. Beberapa pengemudi bajaj pun turut menepi. Saya berteduh di bawah halte panjang di depan pasar. Alhamdulillah cukup untuk menepis curahan air dari langit. Tapi beberapa waktu kemudian, angin kencang turut meningkahi hujan yang semakin deras. Untuk menghindari semburan air dari samping saya mepet ke pohon besar. Mungkin sudah takdir saya harus basah kuyup, pohon itu tak kuasa menahan terpaan angin dan mematahkan dahan-dahan yang cukup besar. Memang tidak sampai merobohkan halte, tapi bikin sport jantung juga. Akhirnya saya dn beberapa orang yang disitu berlarian ke dalam pasar. Setelah hujan reda saya terus ke halte lagi dan menumpang bus kota menuju Pulogadung. Saat itu baru kepikiran kalau baju yang saya pakai termasuk yang di dalam tas kondisinya basah kuyup. Bimbang juga sih untuk mengambil keputusan antara balik kanan atau jalan terus. Kebayang engga sih dari Jakarta sampai Solo dengan baju basah..?

Alarm terCanggih

Dua hari di Lemhanas, ada satu hal yang berkesan banget selain ketemu sama temen lama mantan pasukan kampret dulu, alarm. Awalnya saya iseng matiin AC trus bilang ke temen sambil memperhatikan sensor asap di langit-langit.
"Ta, kalo gua ngerokok. Alarmnya bunyi kagak neh...?"
"Cuek aja, Ko.. Beres engga maintenancenya.."
"Beneran neh..?" timpal saya sambil nyalain rokok. Fuiiiih... Belum ada semenit bunyi tuh alarm.
"Ta, boong loe," rada takut juga disamperin provost.


Eh... yang ditanya malah ngakak. "Tenang, ko... Emang dah gitu tiap hari. Tar juga diem sendiri. Tar bunyi lagi..."

Emang bener tuh. Sepanjang malem alarm bunyi diem bunyi diem terus... Rada ngeganjel di pikiran saya tanya lagi ke temen.

"Alarm apaan sih itu..? Apa tiap terjadi apa di sudut negara ini terus bunyi yah..? Canggih amat... Tapi emang harus gitu y
a..? Namanya juga Lembaga Ketahanan Nasional. Sesuatu sekecil apapun yang menyangkut ketahanan negara harus kedeksi secara dini ya..?"

Tata mendengar ocehan saya malah tambah ngakak...

"Itu bukan alat canggih. Tapi ga punya modal buat mbenerinnya. Gimana ketahanan negara kejaga, alarm eror aja dicuekin... Ada-ada aja loe..."

Heh... aku trus diem..


Cukup Sepatu Saja

Niat Hijrah untuk mengawali lembaran hidup baru kesampaian juga. Mengapa saya pilih Jakarta, karena beberapa waktu lalu temen-temen sering meminta bahkan memaksa saya ke Jakarta untuk membantu pekerjaan dia. Jadi yang kepikir, kayaknya ga terlalu sulit untuk cari kerjaan di Ibu Kota.

Satu dua tiga temen saya samperin, memang kerjaan yang menjadi bidang saya cukup banyak. Ditanya bisa ini,
Insya Alloh bisa... Bisa itu, bisa... Yang begono bisa, yakin bisa... Cuma semuanya mentok ketika mereka menanyakan sesuatu yang tidak saya miliki. Saya tidak punya ijasah dan sepatu.

Hmmm... pikiran saya melayang kembali ke desa. Ternyata budaya sepatu ga di kota ga di desa sama saja. Orang yang tidak punya sepatu, jangankan melamar kerja. Mau masuk kantor saja tidak boleh. Katanya tidak sopan. Saya tuh suka  bingung, walaupun pakaian saya butut tapi kan bersih dan rapi. Cuma karena urusan alas kaki kok dikatakan tidak sopan. Padahal saya lihat resepsionis di kantor itu, walau pakai sepatu, tapi pakaiannya menurut saya kekurangan bahan. Entah karena gajinya kurang atau tukang jahitnya salah potong, yang pasti menurut saya yang dari desa, pakaian itu kurang tata dan krama. Kok tidak dibilang ga sopan ya..?

Orang seringkali menanyakan kamu ijasahnya apa ketika melamar sebuah pekerjaan, padahal saat pekerjaan itu akan dikerjakan, kayaknya jarang banget deh konsumen yang menanyakan itu. Biar lebih yakin saya tanya ke temen saya yang di Lemhanas, "Ta, kalo elo ada pasien, pernah ga pasien elo nanyain elo ijasahnya apa..? IPKnya berapa..?" Nyatanya belum pernah.

Sampai akhirnya saya hampir seharian nongkrong di trotoar pasar senen, merenungkan langkah apa yang harus saya tempuh. Bolak-balik saya ke atas ke bawah melihat-lihat sepatu loakan yang masih bagus. Sempat saya pegang-pegang sambil meraba-raba isi kantong. Tapi akhirnya saya urungkan niat. Beli sepatu bagi saya masih bisa sedikit menerima, tapi membeli ijasah hati saya berat sekali mengiyakannya.

Sambil duduk di kolong jalan layang memperhatikan anak-anak jalanan saya mengambil satu kesimpulan. Isi otak tidak begitu diperlukan di negara ini. Cukup punya ijasah dan sepatu walau entah darimana asalnya. Dan saya harus berani menerima kenyataan kalau otak saya tidak ada harganya dibandingkan sepatu di loakan sekalipun....

Pantaslah Sarmidi menjual otak bangsa kita paling mahal dibanding bangsa lain. Masih original dan jarang dipakai.
Cukup sepatu saja...

Tanya, kenapa....?


Aku di Jakarta

Akhirnya saya pergi juga ke Jakarta walau tanpa arah tujuan. Sekitar jam 7 malem nyampe Terminal kampung Rambutan. Bolak-balik nelpon si Tata ga masuk-masuk. Sialan bener tuh anak...

Kemaren pas nyuruh main ke Jakarta tuh saya pernah minta alamat lengkapnya. Jawabannya enteng banget, "Elo nyampe terminal nelpon gua, tar gua jemput. Ok..?"

Klintang-klintung di terminal sampai jam 9, bete juga. Nyari warnet ga nemu. Browser dan Messenger di HP lagi ga beres. Hiiiiiiiiiih... gemese pooool pokoke. Eh, tiba tiba keingetan kang ML. Aaaah... dia kan punya sapidi di rumahnya... Langsung telpon deh.

Nyambung... Akhirnya meluncur deh ke Tangerang. Cilakanya cuman ada bus AC. Tapi apa boleh buat, naik deh. Sekali-kali ngerasain jadi orang rada elit. Eh, sial. Nyampe Kebon Jeruk ujan gede. Bus elit tuh bocor... Basaaah deh.

Sampai di Terminal Cikokol, kang ML jemput. Seneng juga bisa ketemu temen yang cuman kenal di MP. Apalagi bakal penginepan gratisnya elit abis... Sayang sapidinya lagi ngambek. Ga ngenet akhirnya malam itu...
Tapi, tengkyu kang... atas hotelnya.
Kapan-kapan lagi deh...


Rada siangan meluncur ke Jakarta. Turun pintu Tol Kebon Jeruk. Pikiran ngenet mulai nongol lagi tuh. Nanya ke tukang ojek. Ada katanya... Meluncurlah bareng ojeker ke daerah Kedoya. Tapi sialan, si ojeker cuman muter-muter mala
h masuk perumahan apa... kalo ga salah Villa Tomang. Pusing, akhirnya saya minta berhenti di warung mau nanyain keberadaan warnet. Si ojekernya turun juga mau beli rokok, sekalian minta bayarin. Masih asyik nanya-nanya ke pemilik warung, ga ketauan si ojeker kabur.

Sial ga tuh... Tapi ada sedikit pengobat kesel berdasarkan info pemilik warung, katanya cuman 500 meter dari situ ada warnet. Walking-walking deh ke sana...
Tapi, Buset... bukan warnet, cuman wartel. Nanya lagi disitu. Katanya ada tapi agak jauh. Dari situ lurus, trus kanan, kananlagi, trus kiri, kanan, kiri, kanan, kiri.... kaya hansip baris aja neh...

Sejam lebih diubek-ubek jalan kak
i ga ketemu. Mau nanya-nanya lagi udah males. Ogah ditipu lagi. Buktinya cuman dapet cape doang. Lebih apesnya bingung tuh cari jalan keluar dari perumahan. Belak belok belak belok, masih belum nyampai juga ke jalan besar. Sampai akhirnya nyandera tukang ojek lagi suruh nganterin ke jalan. Kalo ga salah keluar di Daan Mogot.

Ehiya, alhamdulillah sambil muter-muter tuh, messenger di HP udah jalan lagi. Jadi ada temen curhat buat buang sebel. Tapi dasar emang lagi sial, gara-gara keasyikan chat di HP. Niatnya turun di depan RS Medika Permata Hijau, kelabasan deh sampai carefour. Jalaaaan lagi sekilo balik. Naik jurusan Pasar Kebayoran lama. Masih sambil ceting, kelabasan lagi nyampe pasar.

Lik Ihin kasih info disuruh balik lagi naik Mikrolet 09A. Oke deh... kali ini ga bakalan apes lagi. HP dimasukin kantong, aman...  Kirain tuh jauh makanya naik Mikrolet lagi... Ternyata baru beberapa langkah udah nyampe. Sialan untuk yang kesekian kalinya... Kok jadi banyak mengumpat ya...? Tau ah.. Yang penting
ketemu deh ama Lik Ihin di kantornya. Langsung disuguhi kopi anget dan ruang berAC. Wuiiihh... seger....

Malemnya nginep di rumah Lik Ihin. Abis dikasih makan, kepikiran warnet lagi. Dianterin ke warnet di mulut gang. Heeeh... kutak kutik ga mau konek, si ibu penunggu warnetnya baru ngomong, "lagi gangguan mas..."
Sebeeel... Tapi, nuhun pisan Lik Ihiiin... Atas segalanya....

Empat hari bete libur ngenet, akhirnya nemu tuh di deket sarinah.Tapi bentar doang. Mahal, coy... masa sejamnya sepuluh ribu. Balik deh ke Kantor Lemhanas. Kebetulan kang Ali nyusul. Ngobrol ngalor ngidul trus ngikut ke rumah kang Ali. Jam 00:00 lewat dianterin kang Ali nyari warnet yang 24 jam. Ketemu deh ama si warnet, biarpun harus basah kuyup hujan-hujanan.

Takkan kulupakan jasamu, kang Ali.... Rela berbasah ria tengah malem cuman buat membantu saya membuang segala isi otak... Kaya orang kesurupan deh pokoknya nemu warnet. Tapi nyampe jam 4 belom nulis satupun. Yang ngeYM ga habis-habisnya... sampai akhirnya tinggal Yu Windie yang aku cuekin pura-pura bertelor ke WC, padahal ngetik.... He he he... Maap mbakyu sayaaaaang... Besok tek kirim sarmidi curanmor yang banyak deh...

Indahnya Bus Ekonomi

"Hey, kenapa naik bus ekonomi...?" tanya temen saya setibanya di Jakarta. "Bedanya ga seberapa, habisnya lebih banyak. Mana ga nyaman lagi...."

Saya cuma tersenyum mendengar pertanyaan temen itu. Emang bener sih, naik bus ekonomi itu ga enak. Udah lambat, panas, banyak gangguan pedagang asongan dan pengamen ditambah asap rokok dari penumpag lain yang seenaknya. Tapi justru itulah yang saya sukai. Ada sebuah nilai lebih yang saya rasakan saat menumpang kendaraan umum kelas rakyat jelata dan melata itu. Sebuah nilai yang saya rasa terlalu indah untuk dilewatkan. Nilai perjuangan dan kemanusiaan...

Terus terang saya salut dengan kegigihan mereka memperjuangkan hidup. Di saat orang lain, bahkan negara ini tak peduli. Mereka tidak mengeluh. Dengan modal seadanya, sebuah gitar bolong atau kecrek dari tutup botol mereka berusaha bertahan hidup. Jauh sekali dengan kita yang selalu merasa kekurangan padahal kita bisa menikmati internet.


Kalau dihitung sejak dari pintu tol Cileunyi sampai Kampungrambutan, pengamen saja mungkin lebih dari sepuluh. Belum lagi pedagang asongan dan peminta sumbangan. Untung stok uang ribuan rada banyak, jadi saya bisa sedikit berbagi kebahagiaan dengan manusia-manusia tangguh itu.
Temen sebangku saya yang katanya dari Garut sampai bertanya, "Mas, habis berapa buat yang ngamen..? Sayang mas, paling buat mabok. Yang minta sumbangan masjid malah engga dikasih..?"

Memang begitulah.
Apapun yang mereka lakukan dengan hasil ngamennya itu, saya tak peduli. Di mata saya mereka tetap manusia yang mau berusaha walaupun dengan cara yang ala kadarnya. Tak mengapa, sayang... Mungkin hanya sebatas itu kemampuan mereka. Bagi saya itu tetap lebih baik daripada munafik peminta-minta yang mengatasnamakan agama. Baca doa panjang lebar lalu mengacungkan kotak sumbangan masjid. Mengapa umat yang tahu hukumnya "berusaha" di mata Tuhan kalah oleh preman yang kata teman saya hanya bisa mabuk-mabukan...???

Hmmm... itulah indahnya bus ekonomi. Walaupun alasan saya sebenarnya kelupaan sarung saya taruh di tas paling bawah. Males mau bongkar-bongkarnya kalau saya harus naik bus AC.

HP Kesayangan

Heran deh...
Engga tau kenapa neh, posting pagi ini koh dipenuhi dengan kisah perponselan. Entah lagi nyidam ponsel 5G atau karena si sayang Nokia 3315 lagi sedikit flu.

Tapi yang pasti hari kemaren emang menyebalkan untuk urusan telpon menelpon. Seharian rada bete kerjaan ga ada yang beres. Eh, buka komputer kok sepi. Warga MP sama Yahoo ga tau pada ngilang kemana.

Agak malem baru ada temen yang SMS, telpon donk. Pucuk dicinta ulam tiba. Lumayan neh ada temen ngoceh, biarpun perut lagi mules abis makan mie ayam kepedesen. Enak juga tuh ngobrol sambil nongkrong.

Sampai kemudian temen tuh nanya... "Ditempat kamu ujan ya..?"
"Enggak, kok"
"Lha, itu kok seperti suara air.."
"Aku lagi di WC. Kebelet banget," sahut saya tanpa rasa dosa disambung knalpot berderum...
"Sialan..!!!" Lha.. malah ngambek tuh.. " Sembarangan, aku lagi makan tahu. Kamu jorok ih.. hoeks..."

Waduh... ketempuhan buntut maung neh...
Tapi salah siapa nelpon sambil makan. Etikanya dimana nooon...? He he he...

Tadinya saya pikir saya mau bete lagi ga ada temen ngobrol. Eh, ga lama telpon bunyi lagi. Duh, yayangku kali ya... Ga enak dong masak cewek nelpon cowok, kemaluanku ditaruh dimana ntar. "Aku telpon balik aja, yank..."

Bolak-balik nelpon tulalit terus. Buset neh, simPEDE emang bener-bener bikin bete... Trus iseng aku cek pulsa.
Oooo pantesan... pulsanya tinggal 50 perak. Buruan buka YM,dan SMS dari situ. "Maap, yank. Tunggu bentar ya, beli pulsa dulu..."

Ambil motor langsung ngiprit ke konter HP. Baru paling 100 meter malah ujan. Waduuh...
Akhirnya saya berteduh di emper toko. Mau balik, konter paling 50 meter lagi, cuman harus nyebrang jalan, jadi pasti basah kuyup.

Tapi... daripada yayang ngambek, ya udah tancap gas ujan-ujanan. Gapapa berkorban sedikit lah, hujan air inih bukan batu.

Ealah... nasib belum berpihak rupanya. "Pulsa simpatine telas, mas..." Gitu si penjual konter itu tanpa rasa dosa banget.
Akhirnya saya harus menyerah. Pulang dengan basah kuyup.


Begitu sampai, baru sadar 3315 kesayangan basah kuyup. Saya telanjangin dan lap sana sini. Pas buka casing nomor yang satunya jatuh, kan saya taruh di dalam casing. Iseng saya pasang trus cek pulsa..

Duuuh... sembarangan banget. Pulsanya masih banyak tuuuh....
Langsung lupa deh sama keluh kesah berjuang demi teman yang jauh dimata deket di HP. Pas mau nyobain nelpon kok suaranya kerebek-kerebek. Halah... pasti kemasukan air.

Soal kecil kalo gini mah. Ambil obeng, berantakin di meja, trus pasang hair dryer. Lima menit juga beres. Cuman... saya habis mandi kan makan tuh. Nah, tau sendiri kalo habis makan pasti bawaannya ngantuk...

Makanya rada kaget pas bangun pagi, LCD HP dah mengkerut kepanasan di hair dryer semaleman. Lebih kaget lagi pas buka MP ada PM.

"Semalem kemana, say... ditungguin sampai jam 12 kok ga nelpon...?"

Jadi lemes deh.. Maap ya, yank...
Besok lagi deh...

 

Topeng Pembenaran

Tulisan saya tentang Keutamaan Perempuan saya kira tidak ada respon yang keterlaluan di replai-replai yang masuk. Tapi saya mendapat beberapa PM tentang itu yang intinya mempertanyakan keabsahan potongan dalil yang saya kutip. Padahal di bagian akhir tulisan itu sudah saya tulis kekurangan saya dan saya minta bantuan pendapat ke temen-temen.

Saya bukan orang yang kaku dan anti protes. Saya siap menerima kritik, apalagi kritik tempe dan mendoan saya suka sekali. Sekeras apapun sanggahan dari temen-temen atas tulisan saya saya akan pertanggungjawabkan sebatas kemampuan. Dan bila diakhirnya terbukti saya yang khilaf, saya tidak akan berat hati untuk mengakuinya.

Saya jadi agak risih, kenapa sih harus lewat PM kalo memang itu untuk sharing. Kalo nulisnya di replai kan enak, orang lain juga dapat berbagi pendapat. Toh kita bukan untuk mencari kesimpulan. Malah jadinya saya suudzon ke orang-orang itu. Mereka merasa tidak setuju dengan tulisan saya tapi ada ketakutan kalau sampai kalah argumen dan diketahui orang lain. Maafkan saya untuk yang ini.

Yang perlu kita ingat, sudah menjadi kodrat manusia bahwa dia akan mempergunakan segala hal untuk kepentingan pribadinya. Apalagi sesuatu yang sifatnya harus ditafsirkan seperti Al Quran, hadis atau ketentuan hukum lain seperti KUHP. Satu ayat bisa berarti lain untuk orang yang berlainan kepentingan. Bahkan kadang maknanya dibelokan secara paksa dengan sebuah fakta atau fiktif.

Kalo boleh saya cerita tentang seorang teman yang berusaha berbesar hati saat istrinya selingkuh. Dia bertanya kepada istrinya dengan tujuan instropeksi kekurangan dirinya sampai sang istri berpaling.

"Apa sih kelebihan dia yang membuat kamu melupakan suami dan keluarga..?"

"Saya menginginkan seorang suami yang bisa jadi imam," jawab istrinya. "Saya butuh suami yang mendalami agama dan bisa mendidik saya. Tidak seperti kamu yang shalatnya saja senen kemis jemuah kliwon. Yang mau belajar baca Quran saja setelah anaknya minta diajarin iqro. Saya merindukan bisa melepas ayah dan anak berangkat ke masjid bersama-sama..."

Hmmm...
Argumen yang tepat menurut saya. Perselingkuhan yang didasari keinginan religius dan bukan bersifat materi. Walaupun kalau saya lihat secara logika kurang tepat. Kenapa pria idaman lainnya itu bukan seorang santri miskin, tetapi seorang juragan yang secara materi jauh dari suaminya, walaupun mungkin memiliki dasar agama yang luas. Lalu agama apa yang mengijinkan perzinahan dan perselingkuhan. Sama saja dengan orang mencuri sarung bagus dan mahal dengan alasan untuk shalat padahal dia memiliki sarung bersih walaupun butut.

Ini hanya satu contoh penyelewengan argumen agar mendapat pembenaran atas kesalahan yang dia sukai itu. Saya coba ambil contoh lain, biar ga terlalu bias saya ambil dari Quran saja.

Di masyarakat muslim seringkali kita dengan istilah "mengirim faatihah" kepada seseorang terutama yang sudah meninggal. Saya coba ambil satu ayat saja.

"Tunjukilah kami jalan yang lurus" QS 1:6

Digunakan istilah kami. Kami, walau bersifat jamak tetap ditujukan untuk orang pertama. Padahal orang lain (dalam hal ini yang dikirim faatihah) termasuk dalam kategori orang kedua atau orang ketiga, apalagi mereka yang sudah meninggal. Kecual