Kalau 18 Tahun Pasti Porno

"Kalau disitu mensyaratkan usia 18 tahun, pasti porno!"

Hebat ga..? Ucapan menteri tuh...
Berarti kita bikin KTP apa SIM juga porno ya..?
Kita daftar PNS apa Tentara juga iya..?
Toh sama syaratnya. Usia 18...

Bukan sih saya ga setuju ama UU ITE atau saya pro pornografi walaupun suka bugil kalo lagi mandi. Tapi mbok yao, sebagai seorang publik figur lebih hati-hatilah kalo ngomong.

Lalu apakah pornografi itu sah kalo untuk usia di atas 18 tahun..?


"Ada yang punya alasan pornografi itu bagus untuk disebarluaskan? Ada yang punya alasan kekerasan itu bagus untuk membangun moral bangsa ini? Common sense universal values, itu yang kita sepakati bersama. Dari situlah kita bertindak," sambung Menkominfo

Betul pak, saya juga setuju kok kalo situs-situs porno dibabat habis. Minimal untuk mengurangi dampak global warming selama belum ada musuh dalam selimut.

Di dalam Bab VII Pasal 26 disebutkan, “Setiap orang dilarang menyebarkan informasi elektronik yang memiliki muatan pornografi, pornoaksi, perjudian, dan atau tindak kekerasan melalui komputer atau sistem elektronik.”

Sanksi pidana maupun denda itu tertuang dalam Pasal 42 (1) –Ketentuan pidana. Bunyinya: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.1.000.000.000,-. (satu milyar rupiah).

Nah, lho... ini lebih siip lagi.
Sapa saja yang mau beramal jariyah 1 ember ke pemerintah atau mau ngekos gratis selama tiga tahun, silakan buka web porno atau kirim gambar saru. Ini sesuai dengan UUD 45 pasal 34 "Warga kos dan anak telantar dipelihara negara" Itu mencakup anak telantar dan suka ngekos di MP kayaknya...

Berbanggalah kita sebagai warganegara, ternyata negara sudah punya kepedulian terhadap "anak" kita yang telantar sehingga melarikan diri ke situs porno sebagai area penyalurannya.

Cuma kalo melihat yang sudah-sudah, birokrat kita cuma senengnya anget-anget tai ayam. Sibuk banget di awalnya, trus adem ayem sesudahnya. Apalagi kalo proyek-proyek pengadaan hardware dan software pembrantas situs porno itu sudah selesai, yakin bakalan sepi lagi deh suara mereka...


Hmmm...
Harus buruan cari musuh neh, sebelum UU ITE berjalan...

Baca lengkapnya disini dan disini


Premanisme TV Terhadap Anak

Beberapa hari ini saya mendapat email atau PM yang isinya identik :

Mari dukung petisi "Tinjau Kembali Tayangan Idola Cilik dan Tayangan-tayangan yang Tidak Sesuai dengan Usia Anak di Televisi Nasional"

Di beberapa blog termasuk MP pun saya temukan tulisan-tulisan senada. Ada yang pro dan kontra memang. Ada yang menganggap acara Idola Cilik sebagai ajang pencarian bakat dan ada pula yang menganggap itu sebagai ekspolitasi anak untuk kepentingan komersial.

Saya pribadi cenderung berpikir tentang pendapat kedua. Tidak cuma Idola Cilik kok, melainkan banyak sekali program-program TV yang mengarah ke tujuan yang sama. Bolehlah kalo itu disebut pencarian anak berbakat, tapi sistem penjurian dengan SMS itu yang membuat aroma bisnisnya terasa kental. Apalagi keberanian TV menayangkan itu di prime time yang merupakan waktu paling mahal buat iklan.

Dari segi psikologis juga terasa sekali pemaksaan anak untuk berbuat, bersikap, berbusana dan berbudaya dewasa. Ini pemaksaan terhadap keindahan masa kanak-kanak. Jangan heran bila mereka akhirnya berani bertindak sebagaimana layaknya orang dewasa begitu menginjak masa remaja.  

Lalu apa bedanya TV dengan preman yang saya lihat di pelataran Pasar Senen beberapa waktu lalu. Anak-anak di bawah umur dipaksa ngamen atau mengemis lalu sebagian besar hasilnya disetorkan preman yang punya kawasan.

Coba baca deh, ucapan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (PDP), Sambudjo Parikesit yang mengatakan, semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan hasil riset UNICEF yang menyebutkan ada sekitar 40.000 anak Indonesia menjadi korban eksploitasi komersial anak. Secara umum ada tiga macam kegiatan yang sering terjadi yakni prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak (trafficking).

Sosialisasi Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang disertai dengan penyedian hotline service atau tempat pengaduan harus lebih mudah diakses masyarakat jika terjadi kasus di lapangan. Dan harus bisa menjerat eksploitasi anak terselubung seperti pada kasus di berbagai program unggulan TV itu.

Yang mengherankan sebagai orang tua, kenapa harus bangga dengan pemerkosaan hak anak itu. Apakah orang tua hanya memikirkan popularitas yang sebelum waktunya. Kenapa pula harus bangga kalau anak kesayangannya masuk TV untuk acara tidak karuan itu, bukannya didukung untuk berprestasi di bidang akademis.

Apa sih indahnya jadi artis, kalau nyatanya moral hanya menjadi bagian terkecil porsinya dalam kehidupan kaum jetset itu. Berapa persenkah selebritis kita yang benar-benar berkualitas dan berapa persenkah yang hanya bisa menjual kebodohan-kebodohan individu mereka sekaligus mengajarkan bahwa kebodohan itu bisa dijadikan uang.

Alangkah nikmatnya menjual diri...

Mungkin lagu lama dari Ebiet G Ade tepat untuk kasih sayang salah sasaran itu. Hmmm... Seberkas Cinta Yang Sirna...


Masih sanggup untukku tahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas duka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu

Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak cobaan
Begitu tulusnya ku buka tanganku
Langit mendung, gelap malam untukku

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap ku hayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakah kekejamanmu

Petir menyambar hujan pun turun
Di tengah jalan sempat aku merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna


Nasi Kucing di Markas Ngapak.com

Kamis sore sampai jumat pagi kereta penuh terus. Akhirnya ngacir ke daerah Priok, nyari temen yang namanya Veve Andini walau ga tau kayak apa wujudnya. Nyampe Terminal Kota, aku nelpon nanyain alamatnya. Ealah buset, yang ditanya malah ngakak...

"Ngapain nyari gue ke Priok..? Rumah gue di Kemang..!!! Elo salah orang kali..."

Jabang bayi..!!! Berarti kemaren ja
njian ama sapa yak..? Daripada bingung akhirnya ngeloyor kesana-kemari sambil hunting foto di kota tua. Sampai keingetan kalo aku punya temen bekas anak buah di Purwokerto dulu. Mampir tuh ke konter HP di pojokan jl. Krapu. Aku nanyain alamatnya disitu.

"Bang, kalo jl. Kembung sebelah mana yak..?"
"Waduh ga tau tuh. Kesana kali..."

Waduh, orang situ aja ga tau. Kesasar jauh apa yak..? Daripada bingung, aku nelpon ke si Kamplenk. Halah, pulsa abis. Untung masih di konter. Trus isi pulsa deh. Nah... abis ngisi pulsa, si abang tukang konter itu berkata gini...
"Bang, kalo mau ke jalan kembung terus aja kesana. Tar di jembatan belok kanan trus kiri. Tar nemu jl. Kakap belok deh ke arah Museum Bahari. Nemu jalan layang belok kanan lalu
kanan lagi. Sebelah kiri tuh..."

Halah... Si abang semblothongan banget. Masa ditanya alamat aja baru jawab setelah kita beli pulsa disitu. Kenapa ga dari tadi bilang, mau kasih tau tapi bayar....
Jakarta memang luar biasa...

Sebentar di tempat Kamplenk, Kang Khamshe nelpon. Trus meluncur deh ke Muara Angke menyambangi markasnya ngapak.com. Baru aja duduk trus diajak makan. Hmmm... pasti diprotes lagi neh...

Abis jumatan muter-muter di galangan kapal sekalian cari-cari gambar yang asyik. Sayang cuaca ga sip buat foto-foto. Jadilah balik ke markas ngapak.com. Nah disitu kita ngabisin waktu buat meracuni si Kamplenk dengan virus multiply. Sampai akhirnya ga mau bangun tuh anak dari depan komputer. Akhirnya rencana balik Jokja pake kereta jam 5 sore mundur lagi...

Tapi gapapa lah. Yang penting sambutan dari juragan ngapak semedulur banget. Dan yang takkan terlupakan tuh acara makan nasi padang rasa nasi kucing. He he he... bingung yak..?

Sama aku juga bingung...


Beginikah Jakarta

Seneng atau sebel kalo ada yang ngajakin makan...?
Bingung ga jawabnya..?
Harusnya aku seneng.

Tapi aku juga suka sedih.
Kena apa..? Tiliki...

Tiliki, nangapa..?

Sebagai orang yang beriman kita harus berbagi kesenangan dengan orang lain. Termasuk pada waktu kita ada yang mengajak makan.
Walaupun cuma bisa berbagi dengan teman sekedar posting kalo aku habis makan plus kasih foto makanan yang kita santap. Tapi entah kenapa, amal yang begitu indah itu malah sering menuai badai. Ada aja yang protes....

Lebih ga suka lagi kalau seperti malam tadi. Diajakin makan sexy lady yang past
i enak sekali. Cuman sayang pedesnya berkali-kali. Padahal sudah dari sononya aku tuh paling alergi dengan yang namanya pedes... Enaknya dikit, sakitnya lamaaaa...

Buktinya sampai pagi aku malah ga bisa tidur harus bolak-balik ke toilet. Celakanya pagi pagi dr. Andre dah nyamper ngajakin pergi ke Meridien bareng Tata. Mau pake taxi boros, naik bajaj kaya ga etis. Apalagi ngojek Yu Windie. Yang ada cuman ambulans. daripada pusing, brangkat deh pake pengangkut mayat buat jalan-jalan.

Baru nyampe bundaran HI dah mulai tuh isi perut berontak lagi. Mau terus terang, tengsin. Ga ngomong rasanya udah payah. Ak
hirnya aku turun di Karet. Maksudnya mau cari WC umum. Dasar ga apal jakarta, ga nemu deh tempat ngebom itu. Mau ikut numpang di toilet gedung-gedung mewah yang ada disitu, malah diusir satpam. Weeeeh... Jakarta kok begini ya...?

Kepaksa lompat lagi pas ada Patas 44 lewat. Setengah mati rasanya nahan bahan peledak. Alhamdulillah selamat sampai Kebayoran dan akhirnya ngebom dengan tenang. Ahhh... Puas rasanya...

 
Apalagi sambil mengenang kejadian tadi. OOT dikit neh. Tadi pas keluar markas, tuh ada motor diembat bajaj, ceritanya. Pas rombongan kita lewat, orang-orang rame tuh nyetop kendaraan kita pake acara ngalangin jalan segala. Sampai si Tata yang jadi supir sewot...

"Hei, ngapain elo nyetop-nyetop pake maksa. Emangnya ini taksi apa...?"

Eh, orang-orang disitu malah bengong. Aku juga sempat bengong, sampai dr. Andre nyeletuk ke si Tata.

"Elo yang bego, Ta. Kita naek ambulan..."

"Eh, iya deh buset..." Cuman jawab gitu si Tata sambil ngacir tancap gas.

Hihihi...
Begini kah Jakarta
Ga punya rasa kemanusiaan banget yah...?

 

No Smoking

Jadi Si Kabayan Saba Kota ternyata ga enak. Kebiasaan hidup berpanas ria di tengah sawah mencari belut berpengaruh pada fisikku saat beberapa hari harus keluar masuk ruangan ber AC.

Semalaman ga tidur di kereta, setengah hari di Lemhanas, dilanjut ke Gedung BDN sorenya, lalu ke Tangerang masih dengan Bus ber-AC. Pake acara hujan-hujanan tuh di Patas AC yang bocor. Sampai Kantor PT. Alvantys di Ruko Diamond Tangerang, masih juga harus melek sampai jam 3 subuh mendapat training webstore dari Kang ML. Pake AC juga. Sialan...

Akhirnya... pagi-pagi mau bangun susah banget. Badan panas liat sekeliling kamar keliatan muter. HP yang lagi dicas di meja sebrang bolak-balik bunyi pun ga bisa ngambil. Maksain bangun malah mau jatuh. Akhirnya aku cuekin ajah... Paling tar ada yang ribut merasa kehilangan. He he he...

Alhamdulillah siangan dikit badan rada enak. Bangun pelan-pelan, ngecek missed call yang sampai 36 panggilan sama SMS 18 biji. Mandi dan cabut ke Jakarta lagi. Heeeh kayak setrikaan aja nih beberapa hari.

Di Jakarta pun sama saja. Di tempat Lik Ihin juga sama full AC. Ngedesain webset di ManetVision sami mawon... Apakah aku harus merubah kebiasaan hidup kalo maksa tetap di Jakarta, dari heavy smoker menjadi no smoking forever..?

Tapi dipikir ga ada gunanya tuh pake prinsip no smoking. Buktinya kalo pas jalan-jalan, wuaduuuuh....Asap knalpot berhamburan kemana-mana. Dan kayaknya ini lebih gawat deh dari asap tembakau. Walau disebutkan dalam asap rokok mengandung 4000 bahan berbahaya, tapi kayaknya belum ada deh orang lagi merokok terus mati. Kecuali merokoknya di gudang mesiunya PT Dahana. Kalo asap knalpot udah banyak cerita, seperti peristiwa Mobil Mercy Pak Kyai beberapa bulan lalu. Bener-bener langsung mati klesed gara-gara knalpot bocor.

Apa mungkin bener idenya bunda dan yu windie. Dengan adanya ruang AC bisa dijadikan alasan untuk keluar ruangan dengan alasan mau merokok, padahal mah... mbuh.!!!

Dah ah.. persetan Jakarta, aku sudah kangen Jokja. Besok hari semoga aku sudah disana lagi...
 

Mencari Sesuap Nasi

Cari sesuap nasi ternyata lebih susah daripada nyari sepiring spagheti sekalian teman makan yang sexy. Bolak balik Jakarta - Solo - Jokja - Jakarta - Tangerang seperti sudah menjadi jalan hidupku sekarang. Adventure dengan apa adanya ini kadang mengingatkanku pada pengalamanku beberapa tahun lalu.


Saat itu aku juga sedikit terpuruk dihantam krisis moneter berkepanjangan. Berusaha bangkit di Cilacap dalam kondisi sulit dan terus terusan dikhianati oleh temen yang seharusnya begitu deket dan bersama-sama membangun usaha. Sampai babak belur dikerjain orang berkali-kali, aku maafkan, berkhianat lagi, aku maafkan lagi eeeeh... masih tega jadi pagar makan teh-tehan..


Merasa sulit mengapai masa depan di Cilacap walau aku punya lahan di situ, aku pergi ke Surabaya. Ada temen yang menjanjikan lahan usaha yang sepintas sangat menjanjikan. Tapi sampai disana, harapan-harapanku mentok di ambang pintu. Harus ada persyaratan berat yang harus aku miliki, tidak sekedar ijasah dan sepatu. Pokoknya aku harus benar-benar perfect untuk bisa meraih peluang itu.

Memang disana tak sepenuhnya mengecewakan, karena temanku memberikan jaminan untuk menumpang hidup disitu. Terasa indah memang, tapi kan tak mungkin aku selamanya begitu. Aku juga ingin punya masa depan sendiri. Yang benar-benar milikku sendiri.

Kebimbangan demi kebimbangan memerlukan pemikiran yang panjang. Aku di Cilacap punya lahan harapan, tapi terlalu banyak sakit dan kepedihan disana. Dan temankupun tak pernah mengijinkan aku pergi dari sana sebelum aku punya tujuan yang jelas.

Aku bertahan di Surabaya juga tak mungkin. Aku memang bisa numpang dan meminjam harapan orang untuk sementara waktu. Namun jaminan masa depan sangat aku butuhkan. Dan aku ingin kepastian itu dan tak ingin menunggu. Bagaimana orang bisa termotivasi dan semangat meraih cita-cita, kalau kepastian kebahagiaan di masa depan tak jelas.

Lama sekali aku merenungkan itu. Bahkan sampai sekarang pun aku masih terus merenung. Tetap di Surabaya dengan harapan semu atau kembali mencari lahan harapanku di Cilacap walaupun kepastian bisa tercapai kembali aku sama ga tau.

Aku harus kemanaaa...?
Haruskah menuju Negeri Di Awan mencari penerang hidupku dulu. Venus itu...

 

Jumat malam di jalan Sabang

Pulang dari Tangerang, ada yang nelpon, tapi engga tau nomer siapa. Baru pencet Yes, belum juga bilang halo, dari sana ada suara cewek nyerocos duluan.
"Hei, kang.. Elo dimana..?"
Buset deh... Udah manggil kang, kok elo ya..? Tapi suaranya rada kenal tuh.

"Di Merdeka Selatan. Maaf, sapa nih..?"
"Eh, gue kesitu deh. Mo nungguin dimana..?"
"Boleh, tapi ini sapa dulu...?"
"Gue Lina, bego... Gile bener elo dah ngelupain gue.."

Waduh buset... Emang bener itu suara temen lama yang udah 7 taunan ga ketemu. Tapi dulu waktu masih di Banjar sopan banget ga sekasar ini. Ada apa sama dia... Tau nomer aku dari sapa ya...?

Aku diem sebentar rada bingung. Rencana malam ini mau ke Bundaran HI nemuin pasukan blogger yang suka ngumpul disana. Masa harus gagal lagi planning malam ini. Siang tadi janjian ama Vie di Perpus DKI juga udah gagal gara-gara kelamaan di Gedung BDN Thamrin

"Heh, malah diem sih elo. Gue kemana neh..?"
"Ya udah. Aku tungguin di pojokan perempatan Jalan Sabang deh." akhirnya aku menjawab pasrah.

Paling nunggu setengah jam nongol tuh makhluk. Gile beneeer... Jauh ama  Lina yang aku kenal beberapa tahun lalu. Pake BMW seri 5, dandanan sexy abis, gaya model ABG, duduk tumpang kaki dan pake ngerokok segala.


Ngobrol panjang sampai jam 1. Intinya dia cerita kalo dia udah cerai ama suaminya. Anaknya yang cewek belom nambah juga seperti dulu. Cuman kehidupannya meningkat pesat setelah hijrah ke Jakarta 5 tahun lalu.

Yang ga berubah hanya satu.
 Ya, untuk hal yang satu itu dia belum juga berubah seperti saat 7 tahun lalu. Saat dia ada konflik berkepanjangan dengan suaminya dan banyak curhat sampai akhirnya mengajak menikah. Umpet-umpetan juga siap.

Tapi aku tolak permintaan yang satu itu. Aku gak mau dong, ikut menambah runyam rumah tangga orang. Apalagi aku lagi merasakan bahagianya hidup tuh. Baru punya jagoan yang lagi lucu-lucunya...


Yang rada kepikiran tuh, pas dia ngomong. "Kamu sekarang sendirian kan...?"
Iya sih... tapi engga lah. Walau aku suka dengan pertemuan ini, tapi kamu dah berubah begitu banyak. Dan ada satu kesan yang aku ga suka dari segala ucapan dan tindakannya selalu ada makna tersirat yang kira-kira berarti "Kenapa elo dulu ga mau ama gue... Rasain loe sekarang...."

He he he, lumayan....
Jumat malem dapat temen ngobrol dan makan gratis.
Tapi maap, soal report body, cuman kang ML yang tau....