











Akan masuk ke websetnya MWN. Klik aja ID untuk pilihan bahasa Indonesia. Lalu klik tombol masterkey di sebelah kanan (paling atas tuh...). Dilanjut klik pilih domain. Masukin deh nama yang diinginkan. Cek hasilnya setelah memasukan kata verifikasi. Setelah nemu nama yang cocok, tinggal daftar, bayar via BCA atau Mandiri lalu tunggu email pemberitahuan dari MWN. Eh, jangan lupa kalo hanya akan beli domain saja, jangan ambil paket yang berikut hosting.
Setelah itu masuk ke menu Domain & DNS Manager. Akan muncul kode-kode server. Scroll ke bawah sedikit sampai kata DNS zone bawaan . Ada menu dropdown, pilih "main-gmail". Lalu tekan tombol factory. Setelah itu scroll ke atas. Di nomer urut 6 ada pilihan server hosting, diisi dengan ipnya google. Cara melihat ip google, dari startmenu klik run trus ketik ping ghs.google.com
Catat ip yang muncul lalu ganti ip yang ada di kotak keenam tadi. Jangan lupa ip di kotak sebelahnya diganti ke pilih salah satu. Udah cuma segitu doang. Jangan lupa juga untuk menekan tombol "done' untuk menyimpan setting tadi.
Sekarang tinggal menuju ke account blogger. Masuk ke pengaturan - publikasikan. Pilih domain kustom lalu pilih beralih ke pangaturan lanjut. Masukan domain tadi dan klik simpan. Lalu kasih tanda centang di bawah domain, itu untuk mengalihkan dari www.domain.com ke domain.com secara otomatis. Klik simpan pengaturan lagi.
Roy Suryo, Pakar (Nek Ora Nampa, Nyakar) Telematika Indonesia, Pakar Kontroversi merangkap Pakar Anti Blogger. Setelah menggugat Lagu Indonesia Raya kini membuat kejutan baru. KOMPAS | Selasa, 15 Juli 2008
JAKARTA - Tujuh fraksi DPRD DKI menyetujui rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta dijadikan perda, Senin (14/7). Perda tersebut menjadi payung hukum bagi upaya penanggulangan HIV/AIDS dan menjamin pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi bagi penderita atau Orang dengan HIV/AIDS (ODA). Fraksi DPRD DKI menganggap penting Perda tentang Penanggulangan HIV/AIDS karena penularan penyakit yang belum ditemukan obatnya ini di Jakarta sudah sangat meluas, yaitu urutan kedua setelah Provinsi Papua. Apalagi, tingkat penularan HIV/AIDS justru terjadi pada kalangan usia muda dan produktif. "Perda ini bagian dari upaya yang bisa kita lakukan agar penularan HIV/AIDS dapat dikendalikan," ujar Sahrianta Tarigan dari Fraksi Golkar.
Bangun kesiangan, mandi ala capung cebok langsung ngiprit bak Valentino Roso pake sepeda pancal. Duduk ngos-ngosan, nyalain komputer sambil meraih kopi di meja. Bushiiit...! Panas..!!! Aku mengeluh... Huuuh...Al Amin Nasution (AAN): Di mana, bos?
Azirwan (A): Di Ritz Carlton.
AAN : Namanya?
A : Mistere, tempatnya turun lift satu.
AAN : Jam berapa?
A : Jam 10-lah. Bos mau dicariin satu gitu. Tapi aku tak janji. Kalau diupayakan nanti, selera bos payah pula.
AAN : Ya, carikanlah.
A : Yang kira-kira udah lama aku kenal, bos ini paham kan kira-kira.
AAN : Yang kayak tadi malam kan bagus juga yang baju putih itu.
A : Tak bagus.
AAN : Udah dipakai ya?
A : (Tak jelas terpotong interupsi) Nanti aku carikan yang bagus.
Ada seorang teman yang mengeluh tentang privasinya yang terganggu oleh seseorang yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan dia selain sekedar penggemar semata. Dan entah mengapa si pengemar ini tak mau tahu dengan permintaan teman untuk tidak melintasi batas-batas pribadi. Dari cerita teman itu seolah ada sedikit kisah tentang penghakiman sepihak terhadap kehidupan pribadi.
"Nang Jakarta koh ngepit...?"
Begitu komentar temen-temen ketika aku bilang mau ambil sepeda yang dititipin di kolong tangga Lemhanas. Awalnya jadi sedikit ragu juga. Tapi setelah dipikir lagi, ucapan itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Dengan pertimbangan, setelah di Jakarta jarang olah raga dan demi penghematan karena BBM naik aku berangkat juga ke Kebon Sirih. Berangkat dengan temen pakai motor dan pulang ke Kebayoran aku naikin sepedanya. Menyusuri Jl Thamrin - Sudirman sampai Kebayoran, temen yang pakai motor belum nyampe, aku sudah nyampe duluan.
Jadi, untuk apalah memikirkan gengsi bila secara fungsional sepeda lebih bermanfaat buat aku. Buat aku lho... Beda kalo sama tukang ojek.
Lagipula aku jadi inget temen di Jokja yang dosen UGM. Beliau selalu setia dengan sepeda ontanya untuk berangkat mengajar ke kampus yang berjarak sekitar 5 kiloan dari rumah, padahal mobil dan motor ada. Dan nyatanya sampai setua itu, beliau masih segar bugar dan jarang mengeluh sakit.
Ok, aku suka sepedaku. Walau mungkin ini sekedar pembenaran dari ketidakmampuanku beli motor.
Hihihi...
Masih soal telpon neh..
Kesel engga sih kalo ada yang nelpon begitu diangkat, ga ada yang ngomong. Baru ditutup dah bunyi lagi. Diangkat lagi, dieeeem lagi. Begitu dan begitu seterusnya...
Mangkel bener, sampai tak samperin tuh kemaren. Kebetulan yang nelpon ga jauh-jauh amat rumahnya. Tapi belum juga sempat menumpahkan unek-unek, yang punya rumah udah nerocos duluan. "Waah kebetulan kesini, mas. Baru mau disusul. Mau minta tolong betulin telpon rumah. Kalo dipake ga keluar suaranya...."
"Ula marani gebug neeeh..." gerutu saya dengan lemes sambil bengong. Padahal sebelum kesitu udah nyari referensi duluan ke berbagai webset tentang etika menelpon yang baik dan benar. Daripada mubazir saya posting saja lah buat temen-temen:
Etika menelepon :
1. Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon. Ini maksudnya agar anda tidak salah orang atau salah sambung. Sebel kan, kalo telpon bunyi begitu kita angkat diseberang sana bicara gini, "Halo... bisa bicara dengan salah sambung..."
2. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan pribadi. Kecuali ada hal darurat misalkan mengabarkan berita kematian atau ada yang sakit. Enak engga sih tengah malem pas waktunya tidur pules ada yang nelpon cuma mau nanya, "Udah bobo ya.. jangan ngiler lho.."
3. Bila menelpon sebutkan identitas terlebih dulu, kecuali nelpon ke HP temen yang biasanya udah ketahuan itu nomer kita. Bila menggunakan nomer asing atau ke telpon rumah jangan sampai kita menelpon trus nanya, "siapa disitu..?" Lho... yang nelpon mau nyari siapa...?
4. Bila menelpon trus tidak diangkat, jangan biasakan memanggil terus-menerus. Bisa saja yang kita hubungi sudah tidur atau sedang "ketanggungan" dan kelupaan mematikan HP sebelumnya. Ini sangat mengganggu aktivitas orang lain. Tunggu beberapa menit atau beberapa hari baru mencoba menghubungi lagi. Apalagi kalo jawabannya, "Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi.."
Jangan nekat deh. Kalo napsu banget pengen nelpon, mendingan yang barusan jawab saja yang diajak ngobrol.
5. Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain. Budaya ewuh pekewuh bangsa timur biasanya kurang enak untuk memutus pembicaraan walaupun kurang nyaman. Kecuali kalo anda sedang bicara dengan mesin penjawab atau mailbox.
6. Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya karena telpon apalagi ponsel sekarang sudah menjadi barang yang sifatnya privacy. Apalagi kalo kita pinjem hp temen untuk melempar anjing atau masang paku di dinding. Dan yang penting bila terpaksa sekali meminjam telpon, ucapkan terima kasih dan segera dikembalikan. Jangan langsung dimasukin kantong ya...
Duh..
Masih banyak sebenarnya yang harus saya tuliskan itung-itung kuliah subuh di pagi hari ini.
Tapi maaf, dah cape ngetik neh..
To be continued ya... berkabung lah...
Pusing nyari seting GPRS untuk XL, malah nemu yang kaya gini nih di websetnya litbang depkes. Sok simak ya..
Survei yang dilakukan oleh Dr David Sheffield, dari `the University of Staffordshire` menemukan fakta bahwa pengguna telepon seluler akan mengalami resiko stress dan lekas marah, terjadi pada 16 persen dari 106 user telepon seluler yang di survei. Dalam studi terpisah, Dr David Sheffield menemukan bahwa tekanan darah para maniak telepon seluler ini sangat rendah. Tim peneliti menemukan dampak buruk pada 20 pengguna ponsel yang tekanan darah diukur sebelum dan sesudah menggunakan ponsel.
Bener engga yah... Selama ini yang saya tahu pemarah itu cenderung bertekanan darah tinggi. Kita kalau marah saja disebut dengan naik darah. Hmmmm... kenapa jadi kebalik gini ya..?
Kalau memang informasi itu benar, sudah selayaknya kita mulai memikirkan cara terbaik untuk mencegah efek buruk tersebut. Bersyukurlah para penggemar SMS yang lebih sering mempergunakan jempolnya daripada mendekatkan sumber radiasi tersebut ke dekat otak. Tapi dengan melihat kecendrungan operator seluler yang semakin gencar berpromosi, kebiasaan menelpon dalam waktu lama semakin meningkat.
Banyak sekali efek negatif yang kadang tidak terasa oleh kita akibat promo tersebut. Diantaranya adalah :
1. Kita menjadi kecanduan ngoceh di telepon sampai berjam-jam. Biasanya promo akan berubah perlahan menaikan tarifnya. Konsumen kadang tidak menyadari hal ini dan membuat isi kantong terkuras.
2. Rata-rata promo itu berlaku tengah malam, ini membuat jam istirahat kita berkurang. Lebih ekstrim lagi ada operator yang membuat simbol promonya dengan gambar kampret.
3. Dengan berbicara, pengungkapan verbalnya akan lebih luas daripada penggunaan teks dalam hal ini sms. Peluang terjadinya perselingkuhan semakin meningkat. Apalagi mengingat kebiasaan kita apabila ngobrol terlalu lama dan topik pembicaraan mulai berkurang, mulailah bicara yang menyerempet bahaya.
4. Silakan pikirkan dan isi sendiri asal yang jelek-jelek.
5. Serakah amat sih... masa punya empat kejelekan masih kurang...?
Antisipasinya...?
Banyak sekali sebenarnya. Salah satunya yang cukup efektif menangkal radiasi dan mengurangi konsumsi listrik adalah dengan cara menyimpan baterai ponsel didalam kulkas sementara anda menelpon. Bila dirasa kurang irit, silakan gunakan ponsel tradisonal yang relatif lebih murah harganya.
Kaleng susu dengan benang. Coba saja trik ringan ini...

Hanya itu yang bisa aku ucapkan ketika blog ini aku buat.
Setelah sekian lama bergentayangan di dua alam yang membuat aku merasa sering melintasi batas-batas pembalikan kuantum atas nama pembenaran antara dunia nyata dan alam maya, ada sedikit kelelahan yang bergayut dalam tubuh rapuh ini. Berpuluh-puluh blog tak lagi mampu menampung semua beban kehidupan hampa yang mengharap terisi.
Akhirnya aku putuskan untuk membuat blog ini sebagai satu-satunya tempatku bernaung ketika kenyataan akan harapan-harapan rasa tak lagi bisa aku temukan. Bahkan ketika keputusan untuk hijrah sudah tak lagi mampu untuk merubah perjalanan ini, sampai akhirnya aku benar-benar menjadi bayi. Telanjang dalam segala kelemahan dan hanya bisa menangis ketika menginginkan segalanya. Tidak ada yang dipunyai selain segumpal daging dan sisa-sisa jiwa yang belum juga mau beranjak dari padanya.
Memulai menjadi bayi dengan seorang ibu yang selalu membantu dan meninabobokan dengan segala doa dan harapan agar bisa kembali bermimpi serta segera bangkit untuk menangis sekeras-kerasnya menantang dunia ketika mimpi itu berakhir adalah sebuah harapan yang tersisa. Aku yakin akan bisa.
Aku pasti bisa..!!!
Di awal perjalanan baru ini aku hanya ingin mengutip yang pernah aku tulis di salah satu blogku tentang kesunyian jiwa,
"Aku tak tahu bagaimana dunia memandang diriku. Tetapi aku sendiri memandang diriku sebagai seekor angsa kecil yang mengais tanah becek di tepi telaga hanya untuk mencari sepotong cacing tersisa, sementara danau kebenaran seluas lautan tetap tak terjamah olehku."
Ibu, bantu aku dengan doamu. Aku pasti bisa.
Itu saja.