Entah kenapa kalo kondisi pekerjaan mendekati deadline dan konflik serta tingkatan emosi mulai meninggi, teganganku malah justru menurun. Dan kalo sudah sampai ke level diam, segala yang tersimpan di alam bawah sadar seringkali berlompatan keluar. Dan ketika semuanya terasa tak tertahankan, yang terbayang di mataku adalah trotoar depan Monumen Serangan Umum di ujung Malioboro.
Kadangkala aku tak peduli dengan waktu yang mendekati dinihari. Ketika rasa itu ada, langsung aku angkat kaki dengan satu tujuan ke titik nol kota Jokjakarta.
Hmmm...
Baru kepikiran nih, tentang titik nol. Apakah ada hubungannya antara kedamaian yang aku temukan disana di saat gundah menyergap dengan titik nol itu. Yang pasti emosi yang memuncak pun bisa ku tekan sampai mendekati titik nol hanya dengan duduk merenung di bangku panjang atau ngleseh di trotoar. Apa benar ada aura yang menyebar kedamaian di sana..?
Yang pasti ada kerinduan yang terpendam bisa terhanyut di sana. Citra dari kesunyian jiwa di tengah keramaian pusat kota, di ujung Malioboro.
Kesunyian di tengah keramaian..?
Ah.. kenapa malah jadi puitis begini? Entahlah. Yang jelas aku bisa meredam keresahan ke tingkat terendah di sana. Dan ini sama sekali tak berhubungan dengan Towards Zero atau Menuju Titik Nolnya Agatha Christie. Karena ini bukan cerita soal pembunuhan seorang wanita karena dendam. Tapi tentang membunuh dendam yang entah ada hubungannya dengan wanita atau tidak.
Aku tak tahu...
Sungguh aku tidak tahu...
Menuju Titik Nol...
Jidat dan Jempol...
Pertemuan selebritis (takutnya terlalu geer kalo disebut ibu-ibu) penggemar duren di Jerman dua hari lalu menyisakan sebuah pertanyaan simpel tapi bisa panjang dan bisa memendek. Sebuah teka-teki yang menyita waktu di YM sampai harus disambung ke Belanda pake telepon tak juga menemukan jawaban.
Biar ga mubazir pulsa cepek ludes buat nelpon, padahal yang ditelpon malah sibuk ngejar-ngejar kereta sampai anak "kepecirit" ga sempat keurus, saya terus mencari jawabnya kemana-mana.
Tapi entah karena memang itu rahasia dharma wanita, atau memang saya masih di bawah umur. Pas dapat jawaban bukannya jadi jelas, malah yang njawab harus dijejeli gelas. Yang ditanya malah nambahin pertanyaan seh...
Masa sih cuman nanya, "ngapain sih urusan jempol kaki aja diributin. Sampai ada yang ngacak-acak MP orang..?"
Dan jawaban yang didapat adalah, "Kenapa kamu kalo liat cewek, yang dilihat jidatnya dulu..?"
Emang bener sih. Saya emang suka cewek yang jenongnya lebar. Soalnya kelihatan cerdas di mata saya. Ga tau tuh pinternya pinter nipu atau selingkuh, yang penting kemasannya tampak asyik.
Lha kalo soal tampak cerdas dikaitkan dengan jempol tuh maksudnya apa..? Wong jempol saya penuh rangen sebagai hiasan dinding kok. Kenapa musti dicari-cari...?
Tanya kenapa..???
Sepatu boot dan gengsi
Aku sedang mencuci mobil ketika seorang mbak-mbak yang cantik masuk ke halaman galeri membawa amplop besar. Wajahnya intelek tapi cuek aja masuk ke ruangan yang masih tertulis closed. Aku hampiri dan menanyakan keperluannya yang ternyata mau memasukan lamaran pekerjaan.
"Masih terlalu pagi, mbak. Kantor belum buka. Tinggal aja CVnya."
"Ga ah, makasih. Tar aja kesini lagi..." Cuman gitu doang trus ngeloyor pergi kayak jaelangkung.
Aku langsung instropeksi diri. Kenapa ya masih ada orang membuang muka. Apakah karena bangun tidur ku terus mandiin mobil, padahal orangnya belum? Dan ini persis seperti pas pembukaan lamaran pertama dulu. Ada yang ngotot mau ketemu direktur.
Dan agaknya ini berkaitan dengan wawancara pada tahap selanjutnya. Pada pertanyaan, kalo diterimanya jadi cleaning service mau ga..? Dengan senang hati hampir semuanya geleng kepala. Ada apa yah, jabatan itu..?
Salahkah aku yang pernah menganalogikan diri sebagai sepatu boot, sehingga pekerjaan sekotor apapun selalu aku embat saja asalkan halalan toyibah? Dan aku selalu berpikir, sesuatu yang dekat dengan asumsi "hina" asalkan kita bisa membawa diri ke tempat yang tepat, orang tidak akan memandang rendah lagi.
Cobalah kita amati ke sekeliling sejenak. Dulu, kalo orang mendengar kata sepatu plus embel-embel boot, yang terlintas di pikiran selalu lumpur, kuli, bau dan segala yang tidak enak. Tapi kenyataannya dengan sedikit polesan, abg abg sekarang, bahkan selebritis sudah tak malu lagi mengenakannya ke mall atau jingkrak-jingkrak di panggung tv.
Untuk apa kita merasa hina dengan sebutan "pembantu" padahal nyatanya kita seorang pengangguran. Sedangkan sejak dulu pun pejabat tak malu menggunakan istilah pembantu gubernur, ketika istilah residen harus di Indonesiakan.
Jadi...
Haruskan analogi sepatu bootku itu terus aku bina...
atau binasakan saja...
demi gengsi...
walau tanpa isi...
Informasi Lowongan Kerja
Tujuhbintang ArtSpace Yogyakarta membuka kesempatan berkarir dengan ketentuan sebagai berikut :
Marketing Support
- Perempuan penampilan menarik minimal D3
- Menguasai manajemen pemasaran secara offline dan online
- Menguasai MS Office dan internet
- Diutamakan berpengalaman dibidang marketing atau public relation.
Kasir
- Perempuan penampilan menarik minimal SMA sederajat
- Menguasai MS Office dan internet
- Diutamakan berpengalaman dibidang accounting dan inventory.
Pelayan Cafe
- Perempuan penampilan menarik minimal SMA sederajat
- Siap kerja sampai malam
- Diutamakan berpengalaman di cafe
Artshop Helper
- Laki-laki minimal SMA sederajat
- Trampil mengemudi dan memiliki SIM A
- Diutamakan berpengalaman dibidang inventory
Produksi
- Laki-laki minimal STM Jurusan Bangunan
- Menguasai kerja kayu dengan tangan dan mesin
Office Boy/Girl
Ketentuan Umum :
- Jujur, rajin dan teliti dalam bekerja.
- Bisa bekerja secara tim maupun mandiri
- Siap bekerja overtime dan dibawah tekanan
- Bersedia di tempatkan di Yogyakarta
- Untuk posisi 1, 2 dan 3 harap sertakan foto ukuran 3R pose bebas sopan.
Kirimkan lamaran beserta CV serta posisi dan gaji yang diharapkan ke alamat email : eko@tujuhbintang.com
atau melalui pos ke Tujuhbintang ArtSpace Jl Sukonandi 7 Yogyakarta 55166
atau ke PT. Sinar Abadi Communication Jl Asyirot 5 Sukabumi Selatan Kebon Jeruk untuk yang domisili di Jakarta dan sekitarnya.
Sertakan alamat email atau nomor telepon yang bisa dihubungi.
Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan dihubungi.
Selengkapnya silakan lihat di Blog Tujuhbintang
Huuuh... PHK lagi...
Kebayang ga sih, sebulan sekali harus mem-PHK karyawan..?
Bukannya aku si raja tega, tapi ya gimana lagi. Aku sendiri jauh-jauh dari Jakarta dikirim ke Jokja memang untuk membangun kantor baru ini sampai sistemnya jalan. Daripada aku tidak bisa mengejar target dan mendapat rapor merah dari perusahaan, ya dengan berat hati aku harus tutup mata dan telinga mengetik surat pemberhentian kerja.
Tapi...
Tetap aja sih, berat banget nih mencoretkan tinta di atas surat yang baru aku cetak. Bagaimanapun aku tahu rasanya tidak punya pekerjaan di jaman seperti ini.
Walau kedua OB ku ini ga separah manajerku dulu, tetap saja rasa kesel sering muncul. Mengapa sih susah banget cari orang yang general purpose dan bisa autorun. Lebih bagus lagi kalo support multitasking.
Makanya mintak tolong deh, yang punya info orang yang berbakat jadi OB, kasih tahu aku. Ga perlu lulusan D3 atau S1, asal jujur dan teliti dalam pekerjaan dah cukup kok.
Dan yang paling penting kalo disuruh menguras akuarium kesayanganku, ya jangan cuma dikuras doang.
Jangan lupa disikat juga...
Dan dikasih air lagiiiiiii.....
Oh... Wine
Menjadi orang kuper emang ga enak ternyata. Seperti malam minggu kemarin, ketika bos dari Jakarta datang trus banyak tamu berdatangan.
"Ko, cariin wine yah..."
Setres engga sih, orang taunya cuman bir sama badheg disuruh cari yang begituan. Ngajak sekuriti nyari malah sama begonya. Diterangin kalo wine itu anggur, malah dikasih cap kakek-kakek. Kacaw deh...
Akhirnya dengan semangat 45 menerobos macetnya jalanan Jokja di malam minggu aku nyari tuh minuman yang entah gimana bentuknya. Ndilalah 3 jam muter-muter ga nemu tuh. Sampai keingetan minuman bos pasti ada di hotel berbintang.
Ke sheraton nemu, tapi ga boleh di bawa pulang. Lari ke ibis ada, tapi dah tutup barnya karena terlalu malam. Syukur nemu di Melia Purosani, walau rada setres mikir harganya.
Eh, tadi sore ada tamu, disuruh nyari lagi. Kali ini bisa langsung dapet. Abis nyuguhin itu ke tamu, si bos sempat nanya, "kamu ga minum, Ko..?"
Biar ga keliatan bego, aku coba sok gaul deh. "Ga deh, bos makasih. Wine french saya kurang suka."
Eh, masih diuber juga, "kenapa belinya yang french, ga australia atau yang lainnya. Emang kamu sukanya yang apa?"
"Yang Belanda, bos. Asal udah on, pasti langsung mules dan kepingin tidur."
Kali ini bos manggut-manggut, "emang Wine Belanda merk apa yang bisa bikin gitu."
"Windiemeijers..."
Open Closed...
Malem-malem, temen datang dan terus ngoceh. "Mas kemaren aku bawa kolektor dari Singapura, tapi kok galerinya tutup sih? Sampai balik 2 kali."
"Buka kok, seharian aku ga kemana-mana."
"Lha, di pintu tulisane closed kok."
Jabang bayi...
Baru keingetan, dah dua hari ini aku sibuk di belakang nyiapin mesin-mesin untuk produksi spanram. Sampai lupa kalo di pintu ada tulisan open closed.
Selama ini emang pengunjung ga pernah didampingi. Jadi yang mau lihat-lihat lukisan bebas keluar masuk tanpa ditungguin, paling isi buku tamu doang.
Trus, biar ga kelupaan lagi. Aku nelpon si Nana, "Na, besok kalo udah beres-beres jangan lupa tulisan di pintu depan di "openin" ya.."
Tadi pagi Nana udah langsung laporan, "udah diopenin, pak"
Merasa tenang, aku ga ke depan lagi. Lagi sibuk-sibuknya ngerjain meja untuk bor duduk dan gergaji belah di halaman belakang, HPku bunyi.
"Pak, galerinya ga buka ya..?"
"Buka kok. Di pintu udah tertulis "open" kan?" jawabku pede abis.
"Iya, pak. Tulisannya memang open. Tapi kok pintunya masih dikunci..."
Waduh...
Pertikaian Polisi dan Kejaksaan di Jogja
Baru mau beranjak tidur, kesunyian jalan Sukonandi dipecahkan sirene mobil polisi menguik-nguik. Serombongan polisi bersenjata lengkap tampak berlompatan menuju semak-semak (eh aslinya taman apa semak ya..?) di sekitar Kejaksaan.
"Wah rame neh, kejaksaan digerebeg polisi.." pikirku. Mau nyamperin males, takut ditangkep kayak di Majenang dulu gara-gara dikira gembong PRD, akhirnya cuma lihat dari kejauhan aja di perempatan depan galeri.
Tanpa ada suara dar der dor kaya beberapa waktu lalu, mobil polisi itu meninggalkan kejaksaan. Tahu-tahu anggota serse yang suka mampir ngopi di galeri datang. Nah, kebetulan neh, pikirku. Begitu duduk di cafe, langsung aku interogasi ada kasus apa.
"Walah bajigur tenan, pak.." jawab beliau berapi-api. Aku langsung pasang mupeng tuh.
"Saya dah nongkrong disitu dari sore, pake acara dikerubutin nyamuk segala. Eh, begitu yang tak incer keluar kok malah saya digrebeg."
Lho... Aku malah bengong.
Tapi setelah mendengar penjelasan selanjutnya aku malah ngakak. Ternyata beliau tuh bukannya ngicer Kepala Kejaksaan. Tapi lagi ngintip pelaku penodongan yang suka tejadi di daerah situ yang emang sepi kalo malem.
Nah, ternyata satpam disitu curiga, kok ada orang dari sore ngumpet di semak-semak, eh taman pinggir jalan. Di tempat gelap lagi. Jadi tuh satpam nelpon polisi. Jadilah si bapak reserse itu yang digrebeg.
Hehehehe... ada-ada aja sih. Emang ga ada koordinasi apa yak kalo tugas?
Trus karena aku tuh baik hati dan tidak sombong, aku nawarin kopi ke beliau.
"Wah, saya ga suka kopi, pak. Mentahnya aja lah..."
Halah....
Cari Jodoh di Internet
Sebuah pertanyaan di Y!A tentang online dating bersambung menjadi perbincangan hangat di YM. Saya jadi ingat tulisan saya dulu tentang Jaman Kepenak. Disitu saya membayangkan kemajuan jaman yang telah merambah ke segala bidang. Sampai-sampai untuk urusan jodoh pun sudah jamak dilakukan secara online.
Teman saya itu bertanya, kalo harus mencari jodoh di internet, sarana apa yang akan saya pilih. Chatroom, blog atau web khusus online dating?
Mengesampingkan unsur takdir dan Kuasa Tuhan dalam masalah jodoh, secara gamblang saya akan memilih blog sebagai sarana. Tapi maksudnya bukan saya mengiklankan diri melalui blog atau pasang poster "WANTED!!!" gede-gedean didukung SEO yang gencar.
Melalui blog, minimal kita bisa melihat pola pikir bakal calon pasangan yang kita melalui tulisan-tulisannya, tingkat keruwetan blognya yang sedikit banyak mencerminkan pemiliknya.
Walaupun sama-sama hanya mengenal bahasa tulisan dan gambar tapi melalui media chat atau online dating, setidaknya pada awal chat kita sudah ada ketertarikan kepada hal-hal yang bersifat fisik. Misalnya melihat hedsot yang cakep kita setengah mati ngubernya. Kita selalu berusaha membuat kata-kata manis karena memang sudah ada hati bicara. Ini sudah tidak alami lagi. Bisa saja seorang penyuka warna merah, tapi karena orang yang diincer suka warna putih, jadi pura-pura menyukai warna putih.
Beda dengan blog yang merupakan ungkapan isi otak yang seringkali tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Jelas nilai obyektifitasnya lebih tinggi. Tapi bagaimana kalo blog isinya cuma copy paste doang. Yah, minimal kita bisa menilai bahwa pemiliknya merupakan orang yang tidak kreatif dan lebih suka bersembunyi di balik pikiran orang lain. Tapi ga selamanya plagiat ini jelek. Misalkan disetiap tulisan itu tercantum sumbernya, minimal kita bisa menilai bahwa pemilik blog seorang yang jujur dan ga munafik. Mau mengakui kekurangan dirinya yang merasa minder bila harus mengeluarkan ide di muka umum.
Keterbukaan sikap juga bisa kita lihat dari profile blognya. Profile yang lengkap menunjukan sikap yang berusaha welcome kepada teman-teman baru. Beda dengan yang profile cuma isinya gender : female... Kok pelit amat yak. Yang lebih parah lagi, ga mau majang foto sendiri. Hedsot aja pakai gambar orang lain yang cakep.
Kebalikannya ada juga yang banyak memasang foto diri dalam berbagai pose dari jurus anjing kencing sampai 69. Kalo itu sih bisa aja pemiliknya terobsesi menjadi fotomodel atau memang dasar narcis atau emang sedang mengatakan kepada semua orang, "ini lho aku cakep. Tapi sayang jombloooo...." Hehehehe...
Bukan hendak mendahului suratan takdir tentang jodo. Tetap saja kita harus memiliki persiapan untuk menggapai takdir itu. Minimal dengan menyeleksi bakal calon di dunia tak nyata ini sebelum memutuskan untuk berhubungan lebih jauh. Di alam nyata saja banyak yang menipu, apalagi di alam maya.
Ok, teman... Selamat berburu jodoh di zona digital.
Nitip aja kalo punya temen cewek dikenalin ke saya.
Kaya juga gapapa asalkan cantik...
Kok jadi panas sih..?
Terasa banget sejak habis lebaran, suasana seperti rada panas padahal AC sudah distel paling dingin. Sampai-sampai aku nelpon teknisi untuk ngecek semua AC yang terpasang. Dan jawabannya normal-normal saja.
Belum puas aku nelpon PLN untuk memeriksa tegangan listrik. Takutnya tegangan drop sehingga AC ga berjalan maksimal. Ternyata jawabannya juga normal.
Nanya donk, temen-temen. Apakah cuaca setelah lebaran ini emang bener-bener panas. Atau cuma hatiku aja yang panas ga karuan..???
Masih tentang Polisi Negara Republik Indonesia Raya...
Kalau beberapa waktu lalu saya berhenti di lampu merah menjelang Malioboro, trus ditegur polisi katanya lurus jalan terus. Padahal tidak ada keterangan atau rambu-rambu apapun disitu. Hari minggu kemarin harus setor 50 ribu di pertigaan ring road deket flyover Janti gara-gara bablas di lampu merah. Sebenarnya udah ngerem juga, tapi inget pengalaman beberapa hari lalu. Trus melihat mobil depannya yang berplat AB juga ga berhenti, ikutan deh nyelonong walaupun ga ada keterangan lurus jalan terus.
Waktu itu ga disemprit. Tapi udah jalan sekitar satu kilo baru ketahuan kalo lagi dikejar dan diajak ke rumah kosong, bukannya ke pos lalu lintas Janti.
Pagi tadi pas antar lukisan ada yang nyegat lagi. Seperti biasa, nanya SIM dan STNK. Cuman masih ada buntutnya, pake nanya surat bongkar muat dan buku KIR segala.
Akhirnya surat tilangnya aku minta. "Tapi yang biru dong, pak. Jangan relas penitipan sementara kayak gini."
Masih muter-muter juga sampai akhirnya beliau menyerah dan membiarkan saya pergi setelah saya nanya, "pasal berapa, pak, polisi ngurusin buku KIR..?"
Hmmm....
Indonesiaku...
Arti Sebuah Nama...

Entah kenapa saya jadi inget percakapan di YM sore tadi yang membahas tentang nama panggilan atau nickname temen-temen di blog atau di YM. Entah bagaimana awalnya guyonan itu berubah menjadi sedikit serius.
Teman itu menanyakan kenapa saya pakai nama rawins. Saya jelaskan itu sebutan bawaan sejak jaman STM dulu karena saya termasuk superior dalam urusan bandel membandel. Nama pemberian guru itu malah melekat ke diri saya sampai sekarang. Tapi jangan diartikan sebagai ora kawin yaaaa...
Lalu dikejar lagi ke nama anak enthog. Saya memang pernah menganalogikan diri saya sebagai seekor angsa kecil yang belajar terbang. Itu saya lakukan ketika saya harus menjadi gelandangan di kolong flyover Pasar Senen setahun yang lalu. Nama yang memotivasi saya untuk belajar keras walaupun hanya sekedar menjadi anak angsa yang lemah, saya tuliskan di sebuah blog.
Kalo Sakespir bilang "apalah artinya sebuah nama." Pak kyai bilang "nama adalah doa". Dan orang Jawa bilang "asma kinarya japa." Saya malah menganggap nama itu sebagai sarana untuk mensugesti diri. Saya berusaha memasukan semangat hidup ke dalam hati dan pikiran dengan selalu menganggap diri saya bahagia, sepahit apapun kenyataan yang tengah dihadapi.
Makanya saya seringkali skeptis dengan orang yang membuat nickname yang full dangdut, misalnya : cewekjutek, bujangsengsara, wanojatunggara, senyum membawa luka, dll dll eh yang terakhir engga dink...
Menurut opini saya, dengan selalu menafsirkan diri sebagai pelaku kepedihan, sedikit demi sedikit kita mengendapkan di alam bawah sadar bahwa kita memang seperti itu. Dan bagaimanapun juga manusia tetaplah memiliki naluri yang merupakan sifat dasar bawaan. Dan naluri ini tidak memerlukan pikiran atau perasaan untuk melakukannya, karena memang muncul secara spontan dari alam bawah sadar.
Dan ketika naluri selalu berenergi positif, saya menjadi mampu untuk menjalani segala kepedihan hidup dengan damai. Bahkan saya pernah mengatakan, saya bisa menikmati kehilangan demi kehilangan segala sesuatu yang teramat saya cintai tanpa terus hanyut dalam kesedihan yang tiada ujungnya.
Apapun makanannya, duka adalah teman hidup yang pasti akan muncul sewaktu-waktu tanpa kita minta. Dan ketika itu datang, sudah siapkah kita untuk segera bangkit dan tidak terus terpuruk dalam luka itu. Apakah luka akan sembuh bila hanya kita tangisi?
Mengambil kesimpulan dari pengalaman hidup, saya makin terpacu untuk bisa mengisi pikiran dan perasaan saya dengan keindahan. Terserah kenyataan hidup seperti apa pahitnya. Dan saya tak peduli disebut munafik, karena tidak mengakui kenyataan.
Bangkit dan segeralah berlari. Mulailah dengan sebuah nama. Yang mungkin tiada arti. Seperti angsa kecil yang hanya mampu mencari cacing di tanah becek di tepi danau pengetahuan yang seluas samudra.
Semoga...
Saya Harus Makan Apa...???
Ada seorang teman cewek, dia penyanyi yang sedang kebanjiran job setelah lebaran ini. Semalam dia nelpon dengan suara serak dah habis-habisan. Ketika saya suruh istirahat jangan berangkat setiap hari, dia malah menjawab begini :
"Mumpung ada kesempatan, mas. Kerjaan saya memang begini. Kalo engga berangkat, saya harus makan apa...?"
Harus makan apa..? Harus makan apa..?
Itu yang terus terngiang di telinga saya.
Saya jadi teringat, hampir delapan tahun yang lalu, ketika saya masih jadi tukang bersih-bersih telepon umum. Nama besar Telkom tak mampu menggaji saya sampai 4 bulan hanya karena carut marut manajemen dengan Aria West sebagai mitra KSO. Setiap hari saya memberi makan keluarga saya dengan cara mengambil coin yang salah jalur masuk ke blok mesin di boks telepon umum hanya untuk bertahan hidup.
Ketika ada PHK halus-halusan dengan istilah pensiun dini, saya ikut. Pesangon yang tidak terlalu besar saya gunakan untuk membuka usaha dan alhamdulillah setahun kemudian saya bisa memonopoli penyediaan alat wartel di wilayah Priangan Timur. Saat itu biaya hidup tak lagi jadi pikiran.
Ketika angin otonomi daerah berhembus meruntuhkan saya, saya terpuruk hampir ke titik nol di serang kanan kiri dengan dalih bukan putra daerah. Saya pun kembali ke kampung halaman membawa bekal yang tersisa. Membuat gubuk mungil di sisi jalan kereta api. Saya jualan rokok dan istri saya jualan es campur. Setahun setelah itupun saya sudah bisa bangkit lagi dan menguasai pasar service komputer untuk wilayah Cilacap barat.
Sampai detik ini saya sudah berulang kali jatuh bangun dalam masalah usaha. Dan saya amati, ketika posisi saya di atas maupun di bawah, saya selalu merasa bahwa uang saya kurang. Ketika omset saya mencapai satu juta, saya pikir kalau bisa dua juta pasti saya tenang. Tapi nyatanya tidak, saya malah berharap memperoleh tiga juta. Sehingga, kesimpulan saya, dimanapun posisi saya, saya sama seperti teman saya tadi. Isinya hanya ketakutan dan ketakutan akan kekurangan uang.
Padahal kalau saya amati dari lain sisi, di segala posisi itu saya tidak pernah tidak pakai baju. Saya tidak pernah sampai kekurangan makan. Kalau hanya masalah rasa, nyatanya saya lebih bisa menikmati makan sega pecel di Wijilan dari pada makan pizza di Ambarukmo Plaza.
Saya jadi bertanya kepada diri saya sendiri. Mengapa kita sering ketakutan menjadi miskin dan kekurangan uang, bila nyatanya di posisi paling miskin sekalipun saya masih bisa makan dengan nikmat. Dan kenyataan pula di posisi tidak miskin, keluarga saya malah menjadi berantakan.
Masa depan pun nyata sekali bukan semata karena uang. Setahun lalu saya hanya berbekal kaos 2 stel tanpa sepatu apalagi ijasah, tidurpun di sebelah halte busway Pasar Senen. Hanya berbekal kemauan, alhamdulillah saya bisa seperti ini. Sebaliknya, berapa banyak sarjana dari perguruan tinggi terkenal di Jogja yang seringkali datang atau nelpon saya minta dibantu untuk bisa bekerja disini.
Jadi terpikirkan sekarang.
Sudah saatnya buat saya untuk belajar miskin.
Dan belajar untuk membuang ketakutan serta teriakan, "saya harus makan apa...???"
Teman Kecilku...
Saya memiliki seorang teman kecil yang lincah dan lucu, sebut saja namanya Rio. Keindahan masa kanak-kanaknya tidak bisa sepenuhnya dinikmati dengan kondisi keluarganya yang boleh dibilang berantakan. Dan sore tadi Rio saya ajak jalan-jalan melepas kejenuhan di pekerjaan.
Di sebuah keramaian kami bertemu dengan seorang anak muda yang saya tahu pernah andil dalam menghancurkan masa depan teman kacil saya. Rio tiba-tiba nyeletuk, "mas, ada om anu tuh."
Saya diam sejenak lalu bertanya, "kok sekarang manggilnya om. Kayaknya dulu kamu manggilnya ayah?"
"Itu kan dulu, mas. Sama ibu harus manggil ayah. Ibu juga manggilnya gitu."
"Trus, ke ayah kamu manggilnya gimana?"
"Ya ayah Rio. Kalo ke om itu ayah aja."
"Emang kamu suka ayahmu baru."
"Ya engga mau. Masa ayah diganti. Tapi kalo bilang gitu, ibu marah-marah. Jadi pura-pura nurut aja."
Saya diam lagi menarik nafas panjang. "Itu kan dulu, sekarang ayah Rio ga jadi baru dong?"
"Sekarang kan udah ada ayah baru lagi. Tapi jauh, cuma kenal di internet. Kata ibu lebih cakep dan lebih kaya dariada ayah Rio."
"Kamu mau?"
"Ya engga, tapi gimana. Tar malah diusir dari rumah seperti ayah Rio dulu. Pengennya sih ikut ayah aja, tapi ga boleh. Karena kata ibu ayah Rio jahat."
"Emang ayah Rio jahat..?"
"Biar jahat, Rio lebih suka ikut ayah. Soalnya ga pernah marah-marah kaya ibu. Juga ga pernah ganti-ganti ibu. Buat Rio, kejahatan ayah hanya satu, ayah terlalu pengalah."
"Masa sih ibumu jahat. Kelihatannya baik hati tuh sekarang."
"Sekarang memang baik karena dapat ayah baru yang kaya. Rio juga disuruh bilangin ayah Rio agar cepetan cari ibu baru biar ga gangguin ibu lagi."
Kali ini saya terdiam lama banget sambil menekan pedal gas dalam-dalam dengan harapan tekanan batin teman kecil itu ikut terbuang bersama asap knalpot.
Saya sendiri tak habis pikir. Ibunya yang sekarang kelihatan baik dan taat beribadah itu bisa sampai mengabaikan mental seorang anak kecil yang masih polos. Walaupun dia punya catatan buruk di masa lalu, tapi saya yakin dia tidak sejahat seorang teman perempuan saya.
Kalau kita buka penjelasan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di pasal 13 ayat d yang menyebutkan : Perlakuan yang kejam, misalnya tindakan atau perbuatan secara zalim, keji, bengis, atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak. Perlakuan kekerasan dan peng¬aniayaan, misalnya perbuatan melukai dan/atau mencederai anak, dan tidak semata-mata fisik, tetapi juga mental dan sosial.
Tapi kenapa hanya kekerasan fisik saja yang disorot. Dan yang lebih menyakitkan adalah istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu lebih ditekankan pada kekerasan fisik suami kepada istri. Tapi kekerasan psikis ibu ke anak tidak pernah ada gaungnya, walaupun data Komisi Perlindungan Anak Indonesia telah berani menyebut angka kekerasan terhadap anak 80% dilakukan oleh ibu kandungnya.
Tidakkah terbayang apa yang ada dalam benak seorang anak kecil, disaat dia dipaksa untuk berkali-kali menyebut orang lain sebagai ayah? Sementara dia tahu ayahnya masih ada dan terusir dari rumah hanya karena terlalu pengalah? Tak usahlah kita pikirkan apa yang ada dalam otak sang ayah, karena bagaimanapun dia adalah manusia dewasa. Tapi begitu teganya seorang ibu kandung hanya demi "sesuatu yang lebih" mau merampas hak anak akan kasih sayang seorang ayah kandung.
Beda kasus kalau ayah kandungnya itu benar-benar tidak mau peduli atau benar-benar melakukan kekerasan di rumah itu. Walaupun tetap saja dalam sebuah konflik, pasti ada sebab akibatnya. Misalnya ibunya bisa berbuat seperti itu, karena memang ayahnya yang tidak mampu mendidik istri dengan baik. Mengalah tidak selamanya bagus buat kesehatan.
Bagaimana dengan ayah barunya? Saya bisa melihat dari dua sisi. Satu sisi dia salah. Dia masuk ke wilayah konflik, sehingga memicu perpecahan semakin besar karena salah satu pihak merasa memiliki tempat pelarian. Di lain sisi dia tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena mungkin dia hanya memperoleh informasi yang sepihak. Sehingga timbul iba dan belas kasihan setelah melihat ada seorang perempuan lemah yang menghiba-hiba mengumbar penderitaan dan teraniaya. Niatnya baik, menolong sesama yang lemah, walaupun mengabaikan ada pihak lain yang juga menjadi teraniaya dengan tidak melakukan crosscheck ke berbagai sumber.
Huuuh... persetan lah.
Malah jadi sibuk mikirin orang lain. Sudahlah, mendingan kembali ke habitatnya masing-masing walaupun saya pun orang yang terbuang. Semoga saja teman kecilku itu bisa menemukan kembali kebahagiaannya yang hilang. Dan orang-orang yang tanpa sadar menganiaya temanku itu segera sadar. Dan semoga Tuhan tak pernah kehabisan maaf untuk mereka yang mengatasnamakan cinta tapi merusak definisi cinta itu sendiri.
Tetap semangat teman kecilku...
Saya akan tetap menjadi teman baikmu...
Seperti halnya kesunyian jiwa yang setia menemani hidupku...
Semoga...
Jeritan di kamar mandi itu terdengar lagi
Habis maghrib, terdengar jeritan kecil dari toilet yang di dalam. Dulu emang sering terdengar, tapi sudah sebulan ini sepi. Dan baru sore ini jeritan itu terdengar lagi.
Sebelum direnovasi, galeri ini memang rumah yang lama kosong dan sebagian bangunannya sudah ambruk. Setelah direnovasi, aku berusaha mendesain interiornya senyaman mungkin dan tidak ada sedikitpun kesan rumah tua tersisa.
Termasuk untuk kamar mandi itu. Tapi entah salah siapa, seringkali terdengar jeritan kecil dari sana. Terutama menjelang waktu maghrib atau waktu shalat.
Desainernya yang salah, tukang batu, pabrik shower atau orang yang entah ngapain di kamar mandi. Yang pasti desain shower yang menyatu dengan kran itu seringkali membuat orang salah buka kran. Niatnya mau wudhu atau cuci tangan, tapi begitu di buka yang ngucur malah dari shower.
Benar juga, begitu tadi sore aku tengok ke belakang. Ibu yang tadi nanya tempat wudhu lagi berdiri di depan toilet dengan baju basah kuyup.
Mudik Jilid 2
Jagoanku minta monitor, VGA, RAM 1GB dan aquarium. Bundanya pesen printer sama hardisk. Setahun ditinggal mabur, PC di rumah udah ancur-ancuran kayaknya.
Udah tak cariin semuanya. VGA, hardisk dll tak rakitin CPU sekalian. Printer udah tak pasangin infus, monitor udah nemu LCD yang 17", cuma bingung mau ngirimnya. Ndilalah siang tadi ada sms masuk, "Akad nikah sudah terlaksana dengan lancar, resepsi besok pukul 13:00 di Purwokerto."
Undangan ndadak pake SMS lagi, boro-boro nelpon. Tapi berhubung teman lama dan bekas anak buah setia jaman di SAR dulu, ok deh, malam ini aku langsung packing. Sekalian nganter pesenan jagoanku.
Berhubung mau mudik untuk episode kedua, dengan ini aku mohon pamit mau berangkat malam ini. Mohon maaf kepada pasukan kampret dan ureng-ureng, kalo sehari dua hari ini ga bisa menemani.
Bentar...
Ngetik belum rampung, Lik Ihin nelpon mau bawa kadang kurawanya ke Owabong. "Mau jadi seksi transportasi ga?" katanya.
Hmmm....
Jadi kaya lagu dangdut neh. Cinta dalam dilema...
Kondangan ke Purwokerto, ngompreng yang mau pelesir atau nganter pesenan..???
Apa ketemu jagoan dulu.
Trus sekalian Bundanya ajak ke Owabong.
Trus ditinggal kondangan sebentar.
Gitu aja kali yak...
Sahabatku Belum Berubah Juga
Saya punya seorang sahabat yang sudah teramat dekat bagaikan saudara kandung. Selama setahun menghilang dari peredaran seringkali membuat saya kangen dengan celotehnya, bawelnya dan juga segala kebaikannya. Makanya saya senang sekali ketika saya bisa kembali berdebat ria seperti dulu walau sekarang hanya bisa lewat telpon.
Kemarin sore ada email masuk dari seseorang yang minta kenalan dan mengatakan kalau dia juga sudah agak lama berteman dengan sahabat saya itu. Senang juga bisa nambah perbendaharaan teman.
Tapi entah kenapa ketika saya ceritakan teman baru itu ke sahabat saya, sahabat saya yang pada awal percakapan mengatakan "terima kasih sudah mau berteman dengan teman saya". Pada obrolan selanjutnya malah berubah mengatakan saya jahat dan tidak berhak ikut campur urusan dia dan temannya. Saya sampai kirimkan email itu untuk mencari kata-kata "mencampuri urusan" itu. Yang saya yakin tidak ada sama sekali dan saya sekedar mengatakan, saya suka punya banyak teman baru.
Walaupun saya sudah maklum dengan sifat sahabat saya itu sejak dulu dan sudah tidak aneh dengan keributan kecil di sela-sela obrolan, tetap saja saya bingung dengan kata-kata "apa sih hak kamu sampai saya punya teman harus lapor ke kamu. Emangnya kamu panitia audisi apa...?"
Ok sahabat. Kalau memang saya tidak boleh kenal dengan teman kamu, kenapa harus saya yang disalahkan. Toh saya hanya menyambut tamu yang datang dan tak lebih. Setahun tidak pernah bertemu, saya menemukan banyak perubahan di sahabat saya itu, tapi ternyata masih ada yang belum juga berubah. "Merekedewengnyah" kalo orang sunda bilang.
Ya sudah lah. Toh itu bukan kemauan saya. Mungkin memang sudah menu wajib dari persahabatan kita selama bertahun-tahun. Kalau ada orang makan nangka, selalu saja harus saya yang harus kejatuhan durennya. Tapi don wori lah, saya masih tetap seperti yang dulu. Yang tidak pernah bisa membenci kamu.
Piss ya... pisss...
Mengapa Harus Ada Caci Maki..???
Aku sedang cari-cari aquarium kecil pesanan jagoanku ketika telpon berbunyi tanpa ada nomor yang muncul. Belum sempat bertanya 5W+1H, suara laki-laki mencerocos dari seberang sana tanpa pakai tanda baca. Aku terus terdiam mendengar kuliah subuh kesorean itu. Cuma tekan tombol speaker lalu HP aku taruh di atas dashboard.
Mungkin karena aku parkir di depan Gembiraloka, makanya banyak binatang liar dan kotoran keluar dari speaker HP. Enteng sekali kata-kata kere, najis dll berlompatan.
Aku tetap diam dan berusaha berpikir, kenapa sih masih ada manusia arogan yang mau hidup di alam dunia ini. Merasa diri lebih dari orang lain dan dengan mudah merebut hak orang dan menginjak-injak yang mungkin dinamakan martabat. Entah martabat manis atau martabat telor aku ga tau.
Sebenarnya yang dibanggakan sebagai manusia itu apa sih? Kalo kita mau mengingat awal mula kejadiannya, bahan anak ayam saja lebih berharga daripada bahan anak manusia. Telor ayam sekilo sampai sepuluh ribu. Coba bahan manusia, dikumpulin sampai seember pun kayaknya ga ada yang mau beli. Entah kalo di negara kompeni sana.Aku pun ingat lukisan sisa-sisa pameran yang masih numpuk di gudang. Lukisan itu dipajang dengan diawali pembukaan yang wah, menghabiskan dana sampai 100 jutaan. Semua orang terkagum-kagum dan sebagian bengong ketika melihat harga selembar canvas penuh coretan aneh yang harganya sampai setengah ember itu.
Tapi begitu event selesai, barang-barang berharga itu cuma ditumpuk di gudang tak ubahnya rongsokan tak berguna. Aku pun kadang ringan banget membuang upil ke tumpukan canvas itu. Mungkin aku bisa juga ikut menyombongkan diri seperti mereka. "Tempat buang upilku harganya 10 ember lebih tauuuu....?"
Ada mungkin sepuluh menit aku mendapat mobile tausyah itu. Sampai akhirnya aku dengar sepotong ucapan. "Kalo elo emang laki-laki, gua tunggu di senen sekarang..."
Aku bengong sejenak, "Besok dong, sekarang kan minggu."
"Di pasar senen bego, sebrang atrium. Sekarang!!!"
"Ya ga keburu, mas. Saya di Jokja. Maaf mas siapa yah..?"
"Jangan ngeles loe, tadi gua lihat loe di Menteng."
"Eh, maaf. Mas ini siapa..? Mau ngomong sama siapa? Siapa tahu saya bisa bantu?"
Makin lama tegangannya makin lemah. Sampai akhirnya ada salam penutup, "eh, maaf mas. Salah sambung..." Prek..!!!
Semmmm...!!!
Ketika Waktu Membelokkan Hati
Bumi saya suwe saya mengkeret. Sekilan bumi dipajeki. Jaran doyan mangan sambel. Wong wadon nganggo pakeyan lanang. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Walaupun potongan Jangka Jayabaya itu tak sepenuhnya sesuai dengan yang dikatakan Newton tentang waktu mutlak yang independen terhadap segala perilaku materi di jagat raya, namun aplikasi transformasi Lorentz tidak saja melahirkan formula variabel elastik tentang pembelokan ruang dalam waktu saja. Tetapi sudah mulai menjajah ke pembelokan logika dalam jiwa dan kemanusiaan.
Bila secara nalar ombaklah yang mengikis karang agar bisa menyapa pasir pantai. Tapi wolak-waliking variabel relatif terjadi dimana pasir telah meluluhkan karang yang selama ini begitu kuat dalam belenggu ruang dan waktu.
Kutipan dari sebuah syair lama "... kadang segalanya terasa indah setelah dia pergi," agaknya ikut relevan mendukung teori waktu yang justru menjadi satu koordinat yang tak terpisahkan dengan tiga koordinat ruang dari geometri Euclid.
Kesadaran akan sebuah penalaran tentang perasaan memang seringkali terlambat hadir dalam dimensi diri. Ketika senyum yang diharapkan menyambut sebuah kehadiran tak didapatkan, waktu yang kian terseok-seok mulai terbiaskan dalam hati. Berawal dari celoteh pasir, disusul SMS dan sapaan di messenger dari sang karang sampai akhirnya semburat mentari itu itu datang membawa senyum membuka hati ketika telepon berdering.
Sebuah kontradiksi yang dianggap wajar walau kadang mengandung anomali. Semoga terbitnya pagi itu merupakan sebuah perubahan yang pasti dari coretan Einstein. Walau transparansi prisma merupakan sarana membiaskan sinaran jiwa, tapi setidaknya sudah ada kejelasan tentang harapan masing-masing diri.
Huuuuh...
Otak kecil ini begitu lelah menelaah tulisan yang entah apa artinya ini. Tak tahu kenapa semuanya mengalir begitu saja. Sampai kapan kebodohan ini terus membenamkan isi kepala. Yang pasti aku bahagia dalam awal yang tak pasti ini.
Semoga sejarah tidak terulang dalam seumur jagung dan bukan merupakan pengaruh jaman edan. Melainkan merupakan kesadaran diri yang mulai mengerti tentang arti hidup dalam kehidupan. Walau Newtonian diruntuhkan oleh e=mc2, tapi setidaknya itu adalah pondasi yang kokoh untuk masa depan.
Yaaaah, sudahlah...
Semoga kita benar-benar mampu untuk saling mendoakan di jalan berbeda ini demi satu cita-cita tentang seorang jagoan yang kian beranjak dewasa. Yang jelas, sapaan lembut dalam rindu itu telah membuatku bahagia, Bunda...
Mampukah menjadi ombak
Sebuah notes tertulis di Communicatorku. Aku jadi seringkali terdiam agak lama membaca catatan kecil jagoanku itu. Belum bisa terlupakan percakapan dengan jagoan di tepi pantai beberapa hari lalu...
"Adi suka ke pantai kalo kangen, yah..."
"Kenapa? Ayah malah suka ke gunung. Di pantai kan panas."
"Kalo lihat ombak, adi inget ayah."
"Kok ayah disamain ombak?"
"Adi seperti pasir yang engga bisa kemana-mana, yah. Adi ingin ayah seperti ombak. Ga pernah capek nengokin pasir di pantai...."
Celoteh anak kecil yang meluncur ringan itu terasa banget menusuk sampai saat ini. Seorang ayah yang tak bertanggungjawab menghilang hampir satu tahun, ternyata tak juga melunturkan sebuah ungkapan pengakuan, Ayah.
Tapi pengakuan itu justru membuatku malu dengan sebutan itu. Sepertinya sebutan pecundang lebih pantas daripada analogi sebagai ombak. Bisakah aku benar-benar menjadi ombak yang tak pernah lelah membelai pasir kecil itu. Mampukah sapuan ombak itu mengikis kerasnya karang yang mengurung pasir itu agar bisa bebas bercengkrama dengan angin laut?
Huuuh...
Ayah..???
Ramadhan tahun ini tidak barokah
Di saat orang lain berbahagia dan berbangga diri bisa berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman dengan sedikit memamerkan kesuksesan hidup jauh dari tanah kelahiran. Aku malah banyak melamun sepanjang perjalanan dari Jokja menuju Cilacap kemarin.
Menembus kesunyian subuh tanpa teman menelusuri lintas selatan Jawa, membawaku ke pemahaman arti Iedul Fitri yang sejatinya sebagai penutup bulan penuh rahmah. Apa yang bisa ku banggakan di Iedul Fitri ini, bila dalam perjalanan ini pun aku sengaja tidak puasa.
Musafir...?
Ah, itu hanya sebuah pembenaran saja. Yang pasti puasaku harus ku korbankan hanya untuk sebuah ambisi ber Iedul Fitri bersama keluarga. Lalu apa artinya aku merayakan kemenangan itu, bila di akhir perjalanan sudah jelas aku kalah telak.
Ribuan kendaraan yang bersliweran membawa pasukan mudik sepanjang jalan membuatku berpikir dalam. Betapa banyak orang-orang kalah seperti aku yang begitu bangga dengan kekalahannya dan berpura-pura menang dan menang.
Lalu...
Apa artinya semua ini...???